Postingan

Menampilkan postingan dari Oktober, 2025

BELAJAR PADA KABUT

BELAJAR PADA KABUT datang pergi melayang dinakodai angin Menutup dingin dengan gerimis hati Menawarkan kegelapan namun menapak keindahan Kau hiasan alam sebagai wajah Sang Sejati Saat guntur mengirim hentakan Sang sepi tersentak mengingatkan Bahwa sang cinta masih setia mengatur alur kehidupan Tanpa lena tidur maupun kelelahan Hempasan demi benturan Nak hancurkan jiwa dalam luluh rindu Tikam hidup gurih jiwa Ajarkan rasa sakit pembentukan Bak tanah liat nan dijadikan mahaseni indah Kaulah cahaya itu Kaulah cinta suci ini Kau pula mahligai sunyi Kau sebenar benarnya keindahan hakiki (Outro) Wanita menipu dengan senyuman Bila ia tak tahu jalan pulang Lelaki akan memburu kosong Bila tak kembali pada diri Dan aku Tak sudi dipermainkan rasa Rantau panjang 29-10-25

Menyusun naskah story

  Menyusun cerita rakyat menjadi naskah storytelling itu sebenarnya seperti menata permainan sulap: kamu ingin penonton terpesona, tapi rahasianya ada di struktur dan detail. Kita bisa bongkar langkah-langkahnya satu per satu: 1. Pilih Cerita dan Kenali Intinya Cerita rakyat biasanya punya pesan moral , tokoh khas, dan setting tradisional. Contohnya: cerita Timun Mas atau Malin Kundang . Tugas pertama: tentukan inti cerita — siapa tokohnya, konfliknya, dan pesan yang ingin disampaikan. 2. Tentukan Format Storytelling Storytelling bisa berbentuk monolog , dialog antar tokoh , atau narasi campur visual/audio . Pilih yang sesuai dengan media: live performance, audio, atau video. 3. Struktur Dasar Cerita Biasanya storytelling pakai struktur klasik: Pembuka (Introduction) : perkenalkan tokoh, tempat, dan situasi awal. Bisa pakai deskripsi suasana atau kutipan lokal. Konflik (Problem/Conflict) : tunjukkan masalah atau tantangan tokoh. Misal: Malin Kundang durhaka pada ibuny...

LELAKI BADAI

 Langit sore itu seperti kain tua yang ditambal berulang kali — koyak, berdebu, dan menganga di beberapa sisi. Af‘al berjalan di bawahnya, melewati gurun yang tak punya arah dan nama. Angin membawa debu, memukul wajahnya yang pucat kelelahan. Setiap langkah meninggalkan jejak, tapi jejak itu segera tertelan angin, seolah bumi pun menolak mengingatnya. Ia tak tahu sudah berapa lama berjalan. Satu-satunya yang ia tahu hanyalah suara langkah kakinya — thap... thap... thap... — berirama seperti doa yang hilang nadanya. Di kejauhan, samar-samar terdengar gema seperti tawa — atau mungkin tangisan — ia tak tahu. “Ke mana engkau menuju, wahai pengembara tanpa arah?” Suara itu datang dari balik kabut pasir. Dalam kekosongan itu muncul dua sosok. Yang pertama, tinggi besar, matanya tajam seperti elang lapar, tubuhnya diselimuti jubah hitam dengan corak emas berkilau. Itulah Nafs, makhluk yang setiap gerakannya seperti perintah — tegas, menggoda, dan berkuasa. Yang kedua, Hawa, seorang wanita...

Diary of The lost Soldier KISAH SEORANG SERDADU YANG KALAH

Katanya Novella WIKO ANTONI  Diary of The lost Soldier KISAH SEORANG SERDADU YANG KALAH Surabaya, November 1945. Langit berwarna kelabu besi. Asap tebal naik dari bangkai truk-truk militer yang terbakar. Bau mesiu, darah, dan keringat bercampur seperti dupa dari zaman kiamat kecil. Di setiap sudut jalan, tubuh-tubuh bergelimpangan seperti patung rusak yang ditinggalkan pemahatnya. Di gang sempit dekat Jembatan Merah, seorang gadis berlari kecil di antara puing—Ningsih, usia 22 tahun, berseragam Palang Merah Remaja yang sudah lusuh dan penuh bercak darah. Tangannya gemetar menggenggam kain kasa dan sebotol air. Ia bukan lagi gadis yang dulu suka menari di halaman sekolah. Perang menjadikannya seperti pohon ketapang di tepi pantai—tegak tapi patah di dalam. Dari reruntuhan gedung tua peninggalan Belanda, terdengar suara lirih. “Aku… masih hidup?” Ningsih menoleh. Suara itu berat dan terputus-putus, dengan aksen aneh yang tak bisa ia tebak. Ia mengangkat pecahan papan, dan menemukan s...

Cerpen: ANIMA

Karya WIKO ANTONI  Kembara berdiri di tepi danau, memandang bayangannya sendiri di permukaan air yang tenang. Ia merasa seperti sedang menatap jiwa yang hilang, jiwa yang telah lama dicarinya. Tiba-tiba, sosok Sigmund Freud muncul di sampingnya, merokok dengan pipanya yang khas. "Kembara, apa yang kau cari?" tanya Freud, menatapnya dengan mata tajam. "Kekasihku," jawab Kembara, tanpa ragu. Freud tersenyum sinis. "Kau mencari sesuatu yang tidak ada di luar sana. Sesuatu yang telah bersemayam dalam dirimu sendiri." Kembara terkejut. "Apa maksudmu?" "Anima," kata Freud lirih. "Sisi wanita dalam dirimu sendiri. Semua wanita yang kau cintai hanyalah pantulan dari Anima itu." Kembara merasa seperti tersengat. Ia ingat kata-kata Jung tentang anima dan animus, tentang dualitas dalam diri manusia. Ia merasa seperti sedang menatap cermin yang retak, cermin yang memantulkan bayangan dirinya sendiri. Tiba-tiba, sosok Jung muncul di sampin...

Tanah, Tai, dan Tawa di Negeri yang Dijanjikan

 (KATANYA CERPEN) OLEH : WIKO ANTONI #Penyairjangkattimur #penyairuniversitasmerangin Di sebuah kampung Melayu yang sunyi, di tanah yang dijanjikan namun beraroma tai dan darah, berkumpullah para penjaga kebenaran—ataupun yang mengaku demikian. Ada seorang tok sufi yang merokok daun ketum, seorang tok guru yang mengusap janggut panjangnya penuh renungan, dan seorang pakar jiwa yang membawa kitab Freud lusuh. Mereka duduk di warung kopi tempatan, menyeruput pahit kopi sambil bertukar bicara. "Kak, lihatlah," kata tok sufi, matanya menatap langit penuh abu perdebatan. "Tanah ini bukan milik Hang Jebat, Hang Tuah, atau Raja yang beriman. Tanah ini milik tiada seorang pun, bahkan Tuhan pun tiada kepemilikan." Tok guru mengangguk pelan, suaranya lirih: "Memang, agama-agama telah menjadikan tanah ini seperti pasar malam — penuh janji, namun kosong makna." Pakar jiwa tersenyum sinis: "Manusia takut pada ketiadaan. Maka mereka cipta mitos, seperti tiket surga...

Kepalsuan Racun Jiwa

Di sebuah studio film bernama Cahaya Tanpa Batas, sutradara legendaris nan nyeleneh, Kembara Sukma, mengundang seluruh kru dan pemainnya untuk sebuah produksi spektakuler. Film ini bukan sekadar kisah cinta biasa. Ini adalah proyek “eksperimen nihilisme” — sebuah pencarian pencerahan tentang hakikat cinta, keindahan, dan bahkan seks itu sendiri. Di ruang briefing, semua hadir: aktor, aktris, penata artistik, kameramen, sound engineer, hingga tukang teh yang tak pernah bicara. Kembara Sukma berdiri di panggung seperti orator kuno. Ia mengenakan jubah sutra berlapis-lapis dengan motif lukisan langit malam dan matahari terbit. “Apa itu cinta?” suaranya menggema, serupa guntur kecil di studio. Seorang aktor bernama Raka Angkara angkat tangan. “Cinta itu kenikmatan, Pak Sutradara!” katanya penuh keyakinan. Kembara mengangkat alis, “Kenikmatan? Jadi cinta itu cuma… orgasme?” Para aktor dan aktris terdiam, beberapa tertawa getir, yang lain mengernyit. Tiba-tiba, layar studio menyala. Dari dal...

Tanah, Tai, dan Tawa di Negeri yang Dijanjikan

 Di sebuah kampung Melayu yang sunyi, di tanah yang dijanjikan namun beraroma tai dan darah, berkumpullah para penjaga kebenaran—ataupun yang mengaku demikian. Ada seorang tok sufi yang merokok daun ketum, seorang tok guru yang mengusap janggut panjangnya penuh renungan, dan seorang pakar jiwa yang membawa kitab Freud lusuh. Mereka duduk di warung kopi tempatan, menyeruput pahit kopi sambil bertukar bicara. "Kak, lihatlah," kata tok sufi, matanya menatap langit penuh abu perdebatan. "Tanah ini bukan milik Hang Jebat, Hang Tuah, atau Raja yang beriman. Tanah ini milik tiada seorang pun, bahkan Tuhan pun tiada kepemilikan." Tok guru mengangguk pelan, suaranya lirih: "Memang, agama-agama telah menjadikan tanah ini seperti pasar malam — penuh janji, namun kosong makna." Pakar jiwa tersenyum sinis: "Manusia takut pada ketiadaan. Maka mereka cipta mitos, seperti tiket surga. Padahal surga itu hanyalah simbol, gula-gula untuk memikat jiwa-jiwa tulus." T...