Kepalsuan Racun Jiwa
Di sebuah studio film bernama Cahaya Tanpa Batas, sutradara legendaris nan nyeleneh, Kembara Sukma, mengundang seluruh kru dan pemainnya untuk sebuah produksi spektakuler. Film ini bukan sekadar kisah cinta biasa. Ini adalah proyek “eksperimen nihilisme” — sebuah pencarian pencerahan tentang hakikat cinta, keindahan, dan bahkan seks itu sendiri.
Di ruang briefing, semua hadir: aktor, aktris, penata artistik, kameramen, sound engineer, hingga tukang teh yang tak pernah bicara.
Kembara Sukma berdiri di panggung seperti orator kuno. Ia mengenakan jubah sutra berlapis-lapis dengan motif lukisan langit malam dan matahari terbit.
“Apa itu cinta?” suaranya menggema, serupa guntur kecil di studio.
Seorang aktor bernama Raka Angkara angkat tangan. “Cinta itu kenikmatan, Pak Sutradara!” katanya penuh keyakinan.
Kembara mengangkat alis, “Kenikmatan? Jadi cinta itu cuma… orgasme?”
Para aktor dan aktris terdiam, beberapa tertawa getir, yang lain mengernyit.
Tiba-tiba, layar studio menyala. Dari dalam proyektor muncul sosok hologram bercahaya: Tuhan CGI, lengkap dengan janggut berkilau dan mahkota pelangi digital.
“Aku adalah Keindahan Tanpa Batas,” ujar Tuhan CGI dengan nada teatrikal. “Aku adalah cinta yang melampaui tubuh. Cinta adalah pencerahan, bukan pesta nafsu.”
Para kru terdiam. Kamera bergetar seperti bingung. Sound engineer memutar ulang suara itu sampai tiga kali.
Kembara Sukma menghela napas. “Baiklah, kita akan membuat film cinta tanpa seks… tapi dengan seksualitas nihil. Kita harus memahami hakikat nafsu, bukan memuaskannya.”
Sejak saat itu, produksi berubah menjadi sebuah perdebatan filosofis tanpa akhir.
Di ruang wardrobe, aktris Lintang Aruna berkata, “Kalau cinta tanpa tubuh, lalu apa yang kita bicarakan? Bayangan?”
Penata artistik, yang bernama Gatra Bayu, menimpali sambil memegang kostum, “Bayangan itu bentuk tertinggi dari cinta. Bayangan adalah keabadian. Sama seperti nafsu, ia hadir tanpa bentuk.”
Kru lainnya ikut campur: ada yang membicarakan Nietzsche, ada yang mengutip Schopenhauer, bahkan ada yang berdebat tentang ajaran Zen dan sufisme.
Kembara Sukma hanya tersenyum. “Debat adalah bagian dari film ini,” katanya. “Film ini adalah laboratorium absurd, eksperimen cinta nihil.”
Hari demi hari produksi berlanjut. Adegan demi adegan muncul:
Sebuah hutan yang bernyanyi lagu cinta nihil
Laut yang berbicara tentang kesia-siaan nafsu
Sebuah kamar dengan cermin yang memantulkan wajah penonton
Semua pemain mengenakan kostum aneh: ada yang memakai jubah biarawati putih, ada yang memakai mantel pendeta berwarna emas, ada yang memakai topeng bunga teratai. Kostum ini bukan sekadar estetika — ini simbol dari pengasingan diri dari nafsu dan pencarian kerendahan jiwa.
Suatu hari, kru menggelar rapat besar.
“Kita harus memutuskan: apakah film ini tentang cinta atau seks?” tanya kameramen dengan serius.
“Apa bedanya?” sahut sound engineer sambil mengaduk kopi.
Kembara Sukma berdiri di tengah. “Kita harus membuat film porno… tanpa adegan sex,” katanya. Ruangan hening, lalu pecah tawa.
“Pornografi tanpa sex?” tanya Lintang, setengah tertawa, setengah bingung.
“Ya!” jawab Kembara Sukma. “Kita akan membuat pornografi nihil — pesta cinta spiritual tanpa tubuh. Kita akan menampakkan kerendahan nafsu dan ketinggian jiwa.”
Proyek pun bergulir makin absurd. Adegan demi adegan lahir:
Para aktor berpelukan dalam diam, mengenakan jubah biarawati, membaca puisi cinta tanpa kata yang bermuatan erotis.
Aktor pria memeluk boneka malaikat, sambil berdebat dengan dirinya sendiri tentang keberadaan cinta.
Kamera memperbesar wajah pemain yang menangis dalam kebahagiaan tanpa alasan.
Sebuah adegan ritual di mana seluruh kru menyalakan lilin dan mengucapkan mantra absurd tentang “pencerahan tanpa nafsu.”
Debat filosofis semakin memanas. Kru bahkan membentuk “Sekolah Cinta Nihil” di sela produksi. Mereka membahas semua teori: Freud, Bataille, Camus, bahkan Sade.
Kembara Sukma memimpin rapat itu seperti guru sufi yang berkelakar. “Kalian lupa, sahabatku. Cinta itu bukan tentang memiliki. Nafsu adalah ilusi. Keindahan sejati adalah melampaui semua hasrat itu.”
Akhirnya, setelah berbulan-bulan produksi penuh kebingungan dan tawa, film selesai. Judulnya: Pencerahan Tanpa Nafsu: Pornografi Nihil.
Film ini benar-benar porno tanpa sex — semua adegan adalah simbol absurd tentang cinta. Semua pemain mengenakan pakaian biarawati dan pendeta, memancarkan aura kerendahan hati dan kesucian. Adegan klimaks adalah rapat besar para pemain di sebuah panggung terbuka, membaca puisi sambil menangis, tanpa ada satu pun adegan sensual.
Saat pemutaran perdana, penonton tertawa, menangis, dan berdebat. Ada yang mengatakan itu adalah “film paling absurd dan filosofis sepanjang masa.” Ada yang bilang itu “kritik paling brutal terhadap konsep pornografi.”
Kembara Sukma berdiri di depan layar, tersenyum puas. “Kita telah menciptakan sesuatu yang tak pernah ada. Film ini bukan sekadar hiburan, ini adalah pencerahan.”
Para aktor saling menatap. “Kita telah membuat film porno yang… tidak ada adegan sex sama sekali,” kata Lintang sambil tertawa terbahak-bahak.
“Itulah pencerahan,” jawab Kembara Sukma. “Cinta sejati adalah melepaskan nafsu dan menemukan keindahan tanpa batas.”
Layar menjadi gelap. Dalam kegelapan itu, terdengar suara Tuhan CGI: “Aku adalah cinta. Aku adalah keindahan. Aku adalah absurditas.”
Dan studio pun hening, penuh tawa, dan kebingungan.
Film itu menjadi legenda. Di kalangan sineas absurd, Pencerahan Tanpa Nafsu disebut “manifesto cinta nihil.” Sebuah karya yang membuktikan bahwa bahkan pornografi bisa menjadi meditasi, bahkan cinta bisa menjadi absurd, bahkan kehidupan itu sendiri adalah sebuah film tanpa akhir.
Komentar
Posting Komentar