LELAKI BADAI
Langit sore itu seperti kain tua yang ditambal berulang kali — koyak, berdebu, dan menganga di beberapa sisi.
Af‘al berjalan di bawahnya, melewati gurun yang tak punya arah dan nama. Angin membawa debu, memukul wajahnya yang pucat kelelahan.
Setiap langkah meninggalkan jejak, tapi jejak itu segera tertelan angin, seolah bumi pun menolak mengingatnya.
Ia tak tahu sudah berapa lama berjalan.
Satu-satunya yang ia tahu hanyalah suara langkah kakinya — thap... thap... thap... — berirama seperti doa yang hilang nadanya.
Di kejauhan, samar-samar terdengar gema seperti tawa — atau mungkin tangisan — ia tak tahu.
“Ke mana engkau menuju, wahai pengembara tanpa arah?”
Suara itu datang dari balik kabut pasir. Dalam kekosongan itu muncul dua sosok.
Yang pertama, tinggi besar, matanya tajam seperti elang lapar, tubuhnya diselimuti jubah hitam dengan corak emas berkilau.
Itulah Nafs, makhluk yang setiap gerakannya seperti perintah — tegas, menggoda, dan berkuasa.
Yang kedua, Hawa, seorang wanita jelita berambut panjang menjuntai hingga ke tanah. Senyumnya lembut, tapi matanya berisi badai. Wangi tubuhnya seperti melati yang disiram arak.
“Kami tahu kau haus, Af‘al,” bisik Hawa dengan nada menggoda, suaranya seperti nyanyian yang bisa membuat bebatuan bergetar.
“Lihatlah dunia ini… takkan ada yang salah kalau engkau mencicipi sedikit kebahagiaan,” sambung Nafs, sambil membuka peti yang berisi emas berkilauan dan segelas minuman bening.
Af‘al memandangi mereka lama, lalu menunduk.
“Apakah ini tempat tujuan?” tanyanya lirih.
Nafs tertawa keras. “Tujuan? Tidak ada tujuan! Yang ada hanyalah menikmati perjalanan. Dunia ini dicipta untukmu — kekuasaan, wanita, tawa, segala kemegahan!”
Hawa mendekat, jemarinya menyentuh wajah Af‘al yang berdebu.
“Engkau lelah… biarkan aku jadi pelabuhanmu. Dunia tak akan menunggu orang yang berpuasa dari kenikmatan.”
Mata Af‘al menatapnya dalam. Di matanya, Hawa tampak seperti bayangan seseorang yang ia kenal jauh di masa kecil — mungkin kekasih, mungkin ibunya, mungkin sekadar rindu yang belum selesai.
Ia menarik napas dalam, menatap cakrawala yang merah menyala seperti luka.
“Aku mencari sesuatu,” katanya akhirnya. “Tapi aku tidak tahu apa.”
“Kalau begitu,” jawab Nafs sambil tersenyum licik, “biar kami bantu kau lupa pertanyaan itu.”
Malam turun cepat di gurun tak bernama itu. Api unggun menyala, dan di sekitarnya Nafs menari dengan langkah berat, sementara Hawa menabuh rebana kecil, nyanyiannya mengalun pelan:
“Cinta adalah rasa, bukan makna…
Makna adalah beban, rasa adalah kebebasan…”
Af‘al menutup mata. Lagu itu seperti sihir.
Bayangan wajah-wajah masa lalu menari dalam pikirannya: ibunya, rumah kecil di kaki bukit, tawa anak-anak, dan seorang perempuan berjilbab putih yang menatapnya lembut di bawah hujan — tapi ia tak ingat siapa namanya.
“Siapa dia?” gumamnya dalam hati.
Nafs menjawab tanpa diminta, “Itu masa lalu. Jangan biarkan masa lalu mencuri nikmat hari ini.”
“Ya,” bisik Hawa, mendekat di telinganya. “Cinta yang dulu hanya mengikatmu pada penderitaan.”
Af‘al terdiam. Tapi dalam diam itu, ada sesuatu yang melawan.
Sebuah suara kecil — nyaris tak terdengar — berbisik di dalam dirinya:
“Pulanglah… Nur menunggumu.”
Ia membuka mata. Tak ada siapa-siapa. Hanya angin.
Namun bisikan itu meninggalkan gema di dadanya.
Subuh datang perlahan. Langit mulai pucat.
Nafs dan Hawa sudah pergi, meninggalkan jejak samar seperti mimpi buruk yang memudar.
Af‘al berjalan lagi. Tapi kali ini langkahnya tak sekosong kemarin.
Ia tak tahu siapa Nur. Tapi nama itu terasa seperti doa.
Dalam perjalanan, ia melihat reruntuhan kota — tembok pecah, pohon-pohon kering, dan sumur tua yang berisi air berkilau di bawah cahaya mentari.
Ia menatap bayangannya di air. Tapi yang ia lihat bukan dirinya —
melainkan wajah seorang anak kecil dengan mata bersinar.
“Apakah itu aku?” tanyanya pada pantulan itu.
Anak itu tersenyum, lalu menjawab, “Itu engkau sebelum lupa siapa dirimu.”
Air di sumur itu bergetar, lalu berubah menjadi kabut yang menyelimuti sekitarnya.
Af‘al mencoba menyentuhnya, tapi tubuhnya justru terseret ke dalam pusaran air. Ia terjatuh, terbanting, dan saat membuka mata — ia sudah berada di hutan dengan suara burung dan sungai yang jernih.
Di tepi sungai itu, berdiri seseorang: tua, berjanggut putih, membawa tongkat kayu.
“Engkau akhirnya sampai,” katanya lembut.
“Siapa kau?” tanya Af‘al, terengah-engah.
“Namaku Ilham,” jawab lelaki itu. “Dan aku diutus untuk mengingatkanmu tentang jalan pulang.”
Af‘al menatapnya ragu. “Aku bahkan tidak tahu aku sedang tersesat.”
Ilham tersenyum, “Itulah tanda kau benar-benar tersesat.”
Angin berhembus, daun berjatuhan.
Suara air mengalun seperti zikir.
Ilham menatap jauh ke arah matahari, lalu berkata perlahan:
“Di kampung cahaya, ada seorang yang menunggumu, Af‘al.
Namanya Nur.
Ia adalah cinta yang tidak memenjarakan,
rumah yang tidak berdinding,
dan wajah yang membuat malaikat menunduk.”
Af‘al tertegun. Hatinya seperti bergetar, seolah ia pernah mendengar nama itu entah di mana.
“Kembalilah sebelum terlambat,” lanjut Ilham.
“Karena Hawa dan Nafs takkan berhenti mengejarmu.”
Af‘al memandangi hutan yang mulai memerah oleh senja.
Ia tahu, perjalanan yang ia jalani bukan tentang langkah —
tapi tentang ingat dan lupa.
Ia menatap ke langit, lalu berbisik pelan:
“Kalau benar Nur menungguku…
semoga aku masih tahu jalan pulang.”
Subuh belum sepenuhnya lahir. Kabut menggantung di antara pepohonan seperti selendang putih yang menutupi wajah pagi.
Af‘al duduk di pinggir sungai yang tenang, sementara Ilham berdiri tak jauh darinya, menatap air yang memantulkan langit samar.
“Air ini menyimpan rahasia,” kata Ilham perlahan, “karena ia tak punya bentuk, tapi selalu kembali ke asalnya.”
Af‘al diam. Kalimat itu terasa seperti teka-teki yang melingkar di kepalanya.
“Apakah aku juga akan kembali ke asal?”
Ilham menatapnya, mata tuanya memantulkan cahaya lembut. “Semua akan kembali. Tapi tidak semua sadar sedang pulang.”
Selama beberapa hari, Af‘al tinggal bersama Ilham di hutan itu.
Rumah Ilham hanya gubuk kecil dari bambu dan daun rumbia. Tapi setiap malam, sinar lembut turun dari langit, seperti embun yang berzikir.
Ilham mengajarinya cara mendengar — bukan dengan telinga, tapi dengan hati.
“Dengarkan dunia bukan dari bunyi,” katanya suatu malam, “tapi dari diamnya.”
Af‘al menutup mata, mencoba memahami.
Dalam diam itu, ia mendengar suara jauh…
lembut, mengalun seperti nyanyian dari kampung yang sangat jauh:
“Af‘al... pulanglah...”
Ia membuka mata. “Siapa itu?”
Ilham tersenyum, “Itu suara Nur.
Ia tak pernah berhenti memanggilmu.”
Hari berganti. Af‘al mulai membantu Ilham menanam pohon, mengambil air dari sungai, dan belajar menulis ayat-ayat di tanah dengan ranting kering.
Namun, setiap kali malam turun, rasa resah menyelinap.
Ia sering melihat bayangan dua sosok di ujung hutan — Nafs dan Hawa, seperti dua api yang menari dalam gelap.
Mereka menatapnya, kadang tersenyum, kadang berbisik,
seolah menunggu celah untuk memanggilnya kembali ke dunia.
Suatu malam, Af‘al tak tahan. Ia bertanya,
“Guru Ilham, mengapa aku terus mendengar panggilan dunia?
Uang, wanita, kuasa — semuanya seolah menuntutku untuk kembali mencicipinya.”
Ilham menatapnya lama. “Karena mereka belum sadar, dan kau belum sepenuhnya sembuh. Dunia bukan musuhmu, Af‘al — tapi ujian apakah kau tahu siapa dirimu di tengahnya.”
Af‘al menghela napas panjang. “Tapi Nur… siapakah dia sebenarnya?”
Ilham tersenyum samar.
“Nur adalah cermin. Di dalam dirinya, engkau akan melihat wajahmu yang sejati.”
Keesokan paginya, Af‘al memutuskan berjalan sendiri menyusuri hutan.
Ia ingin menemukan kampung yang disebut Ilham — kampung cahaya.
Kabut menipis, udara dingin menusuk tulang.
Setiap langkahnya terasa seperti membuka lembaran kitab yang tak berjudul.
Setelah beberapa jam, ia sampai di sebuah lembah. Di sanalah ia melihat desa kecil, penuh cahaya keemasan yang memancar dari setiap rumah.
Orang-orangnya berpakaian putih, wajah mereka bersih dan damai.
Mereka menatap Af‘al dengan senyum yang tidak menghakimi, seolah sudah mengenalnya sejak lama.
Di tengah desa, berdiri seorang perempuan muda dengan wajah bercahaya lembut.
Ia menatap Af‘al, dan dalam tatapan itu waktu berhenti.
Air mata jatuh tanpa sebab.
Itulah Nur.
Nur mendekat tanpa suara. “Engkau akhirnya datang,” katanya.
Suara itu seperti lagu yang dikenal tapi terlupa.
Af‘al menunduk, tak berani menatap terlalu lama.
“Aku tidak tahu apa yang kucari… tapi entah kenapa, semua langkahku sampai padamu.”
Nur tersenyum. “Kau mencari dirimu sendiri, Af‘al.
Tapi hatimu masih setengah milik dunia.”
Ia mengulurkan tangan, tapi tidak menyentuh.
“Jangan tersentuh dulu, sebelum kau tahu apa makna cinta.”
Af‘al menatapnya, bingung.
“Apakah cinta itu bukan pertemuan dua raga?”
“Bukan,” jawab Nur lembut. “Cinta adalah kesadaran dua jiwa yang saling menatap tanpa ingin memiliki.”
Ia lalu menatap langit, cahaya menetes dari rambutnya seperti hujan bintang.
“Kau belum bersih, Af‘al. Dunia masih menulis namamu di debu.
Kembalilah dulu… bersihkan luka yang kau sebut nafsu.”
Seketika, suara petir menggema. Langit kampung itu berguncang.
Af‘al berusaha mendekat, tapi cahaya Nur semakin terang.
Wajahnya perlahan memudar.
“Kembalilah, Af‘al. Bila waktumu tiba, aku akan menunggumu di tepi cahaya.”
Dalam sekejap, cahaya itu pecah. Dunia berganti.
Af‘al terbangun di tepi hutan — sendiri, basah oleh air hujan.
Semuanya seperti mimpi, tapi di telapak tangannya ada setetes cahaya kecil, berdenyut seperti jantung.
“Nur…” bisiknya.
Air matanya menetes, menyatu dengan tanah.
Dan tanah itu pun berbisik lirih:
“Cinta sejati tak pernah hilang… hanya menunggu kau sadar untuk pulang.”
Malam turun perlahan di atas hutan.
Suara jangkrik seperti zikir yang kehilangan tempo.
Af’al duduk di bawah pohon beringin besar, menatap cahaya kecil di telapak tangannya — sisa sinar dari Nur.
Cahaya itu berdenyut pelan, seperti napas kehidupan.
Namun semakin lama ia menatap, semakin redup sinar itu.
Dan dari arah kabut, dua bayangan mulai muncul.
Hawa datang dengan langkah yang lembut, gaunnya berkilau seperti air di bulan purnama.
Nafs berjalan di sampingnya, membawa kendi berisi minuman yang memantulkan bintang-bintang di langit.
“Af’al...” suara Hawa bagai bisikan dari masa lalu.
“Sudah terlalu lama kau menahan diri dari nikmat dunia.
Tidakkah kau rindu untuk menjadi manusia seutuhnya?”
Af’al menunduk.
“Manusia seutuhnya?” tanyanya pelan. “Atau budak dari keinginan?”
Nafs tertawa, suaranya keras tapi menenangkan, seperti badai yang disamarkan jadi lagu.
“Keinginan adalah bahan bakar kehidupan, Af’al. Tanpanya, bahkan para nabi takkan berjalan.
Kau pikir kau bisa hidup hanya dengan cahaya?
Cahaya tidak memberi rasa, tidak memberi pelukan, tidak memberi dunia.”
Hawa mendekat, mata dan tubuhnya berkilau seperti bara.
“Kau tahu, bahkan Nur pernah melihat dunia lewat mataku,” bisiknya lembut.
Af’al menatapnya, antara percaya dan takut.
“Nur tidak sepertimu,” katanya.
Hawa tersenyum. “Kau salah. Aku adalah bayangan dari Nur — yang mencintai rasa, bukan sekadar makna. Bukankah kau merindukan itu?”
Musik perlahan terdengar — entah dari mana datangnya.
Suara suling, rebana, dan gemerincing rantai.
Tiba-tiba tanah di bawah kaki Af’al berpendar, berubah menjadi lantai kaca bening yang memantulkan ribuan warna cahaya.
Di sekelilingnya, puluhan sosok perempuan menari — wajah mereka mirip dengan Nur, tapi matanya kosong.
Mereka menari dengan keindahan yang menyakitkan.
Hawa berputar di tengah lingkaran itu, rambutnya memantulkan cahaya.
“Tarian cahaya,” katanya, “adalah doa yang membuat dunia lupa akan sumbernya.”
Af’al terpaku. Setiap gerakan tarian itu seperti mantra.
Tubuhnya terasa ringan, pikirannya mulai kabur.
Sinar kecil di telapak tangannya perlahan padam.
“Minumlah,” kata Nafs, menyodorkan kendi.
“Ini bukan arak. Ini adalah rasa.”
Af’al menatap kendi itu. Dalam cairan beningnya ia melihat wajah Nur — menangis.
Ia ingin menolak, tapi bibirnya kering, dadanya panas, pikirannya berputar.
Dan sebelum ia sadar, ia sudah meneguknya.
Sekejap dunia menjadi indah.
Warna-warna menari di udara.
Ia merasa bebas, kuat, dan agung.
Tawa pecah dari mulutnya tanpa alasan.
Namun keindahan itu hanya sekejap.
Dalam beberapa detik, wajah-wajah para penari berubah menjadi tengkorak.
Cahaya berubah menjadi api.
Hawa tertawa keras, memegang tangannya, dan berbisik di telinganya:
“Lihat, Af’al. Inilah wajah rasa tanpa makna.”
Af’al terjatuh. Tubuhnya gemetar, matanya memandang langit yang kini berubah jadi merah darah.
Ia menjerit, tapi suaranya tak terdengar.
Ia mencoba berlari, tapi langkahnya berat — tanah yang semula kaca kini berubah jadi lumpur hitam.
“Jangan lawan, Af’al!”
Itu suara Nafs, menggema dari segala arah.
“Lumpur ini adalah dirimu sendiri. Di sinilah semua keinginanmu lahir — uang, wanita, nama, kuasa.
Engkau mencintainya, maka tenggelamlah di dalamnya.”
Af’al berusaha menarik kakinya yang terperangkap lumpur. Tapi semakin ia melawan, semakin dalam ia tenggelam.
Di atas, Hawa menari sambil tertawa, rambutnya menjuntai seperti tali cahaya yang melilit tubuh Af’al.
“Engkau milikku sekarang,” katanya.
“Nur hanya bayangan yang tak bisa menyentuhmu di dunia ini.
Aku nyata. Aku darah. Aku daging.”
Af’al menatapnya dengan sisa kekuatan terakhir.
“Jika kau nyata… mengapa aku merasa mati di hadapanmu?”
Hawa terdiam sesaat.
Lalu ia menunduk, matanya kosong. “Karena aku pun ilusi, Af’al.
Kau jatuh cinta pada bayangan dirimu sendiri.”
Langit terbelah. Petir menyambar dari segala arah.
Af’al berteriak, memanggil nama Nur — tapi yang keluar hanya suara serak tanpa makna.
Ia tenggelam hingga ke dada, lalu ke leher, lalu hanya matanya yang tersisa di atas lumpur.
Hawa menatapnya untuk terakhir kali.
“Cinta adalah ujian, Af’al. Tapi kau menjadikannya permainan.”
Setelah itu, ia memudar, meninggalkan tawa yang pelan berubah jadi isak.
Gelap.
Hanya lumpur dan hujan.
Dan jauh di bawah sana, dalam kegelapan, sesuatu bergetar — bukan cahaya, bukan suara, melainkan penyesalan yang tak punya nama.
Gelap.
Tak ada siang, tak ada malam.
Yang tersisa hanya aroma busuk tanah basah, bercampur amis besi dan air mata.
Af’al membuka mata. Dunia di sekitarnya bukan dunia yang ia kenal.
Langit tak lagi biru — melainkan hitam kehijauan, beriak seperti air kubangan.
Di bawahnya, tanah bergetar pelan, seperti perut makhluk raksasa yang sedang tertidur.
Ia mencoba bangkit, tapi tubuhnya berat.
Lumpur mengikatnya hingga ke dada.
Di kejauhan, terdengar tawa lirih, seperti suara yang datang dari balik tengkorak.
Itu suara Nafs.
“Selamat datang di tempat asalmu, Af’al.”
Af’al menatap sekeliling.
Dinding-dinding lumpur itu bukan sekadar tanah.
Ia melihat wajah-wajah di sana — wajah dirinya sendiri, dalam beribu versi:
yang sombong, yang tamak, yang berhasrat, yang ketakutan.
“Tempat asal?” tanya Af’al serak.
“Aku berasal dari cahaya.”
Nafs tertawa keras.
“Cahaya? Ah, betapa mudahnya manusia berbohong pada dirinya sendiri.
Kau berasal dari keinginan — dari letupan kecil dalam kesunyian Tuhan.
Cahaya hanya menampar wajahmu, bukan melahirkanmu.”
Af’al menunduk.
Lumpur di sekelilingnya mulai memantulkan bayangan.
Ia melihat dirinya berjalan, memakai mahkota emas, dikelilingi manusia yang memujanya.
Dalam bayangan itu, ia berpidato tentang kebenaran, tapi tangannya memegang pedang darah.
Ia mundur ketakutan.
“Itu bukan aku!”
Nafs melangkah maju.
“Oh iya? Coba lihat lebih dalam.”
Af’al menatap bayangan itu sekali lagi — dan kini ia tahu,
itu memang dirinya.
Dirinya yang dulu merasa paling tahu jalan Tuhan,
paling suci, paling pantas bicara tentang Nur,
padahal dalam dada, ia masih mencintai dunia lebih dari kebenaran itu sendiri.
“Setiap manusia,” kata Nafs lembut, “menjadi lumpur dari ingatan dosanya sendiri.”
Tiba-tiba dari kegelapan muncul Hawa, kali ini tanpa cahaya, tanpa senyum.
Matanya redup, rambutnya kusut, bibirnya pecah-pecah.
Ia duduk di samping Af’al, menatapnya dengan pandangan yang nyaris iba.
“Lihatlah aku, Af’al,” katanya lirih.
“Dulu kau mencintaiku karena keindahan, kini kau benci aku karena dosa.
Padahal aku tetap sama. Aku hanya cermin bagi keinginanmu.”
Af’al menatapnya lama.
“Jadi semua ini—”
“Adalah dirimu sendiri,” potong Hawa pelan.
“Aku tidak pernah menggoda. Aku hanya menampakkan apa yang sudah kau inginkan sejak awal.”
Kata-kata itu menghantam seperti badai di dada Af’al.
Ia terdiam, air matanya mengalir perlahan.
Lumpur di bawah tubuhnya mulai panas, berasap, seolah ikut menangis bersamanya.
“Jika aku adalah lumpur,” katanya dengan suara serak,
“maka aku ingin kembali jadi tanah.
Tempat akar menancap, bukan tempat bangkai menumpuk.”
Hawa tersenyum tipis.
“Itu artinya kau mulai melihat.”
Langit tiba-tiba bergetar.
Petir menyambar, tapi kali ini tidak menyakitkan.
Dari retakan cahaya di atas, setitik sinar turun perlahan, jatuh ke wajah Af’al.
Ia menatapnya — lembut, suci, tapi tidak menyilaukan.
Sinar itu membentuk sesuatu di udara: bayangan wajah Nur.
Tapi kali ini bukan dalam keindahan surgawi, melainkan dalam kesedihan yang dalam.
Wajah yang merindukan, tapi juga kecewa.
“Nur…” suara Af’al bergetar. “Aku.
. Tapi sebelum ia sempat bicara, Nafs berteriak keras,
“Jangan dengarkan dia! Dia akan mencabut rasa yang kau punya!
Dia akan membuatmu kosong!”
Af’al menatap Nafs, lalu Hawa, lalu cahaya kecil itu.
Dan dalam sekejap, ia tahu:
kosong adalah satu-satunya jalan untuk penuh kembali.
Ia menarik napas dalam, lalu berbisik,
“Kalau kosong adalah jalan pulang, maka biarlah aku hilang.”
Lumpur mulai berubah warna — dari hitam menjadi abu-abu, lalu jernih seperti kaca.
Wajah-wajah yang tadi menjerit kini diam.
Af’al memandang ke dasar kolam bening itu, dan di sana…
ia melihat dirinya yang lama — berdiri bersih, tenang, tanpa mahkota, tanpa dosa.
Ia menyentuh permukaannya.
Bayangan itu menatapnya kembali, tersenyum.
Dan untuk pertama kalinya, Af’al tidak takut pada dirinya sendiri.
Tapi Nafs tidak terima.
Ia menjerit, suaranya menggema bagai ribuan guruh.
“Kau tidak bisa pergi! Kau milikku, Af’al! Aku darahmu! Aku napasmu!”
Af’al berdiri. Lumpur di kakinya pecah, mengeluarkan cahaya lembut.
Ia menatap Nafs dengan damai.
“Kau bukan musuhku. Kau adalah bagian dari perjalananku.”
Nafs terdiam. Tubuhnya perlahan larut dalam cahaya.
Hawa ikut memudar, tapi matanya masih menatap Af’al lembut.
“Pulanglah,” bisiknya. “Nur menunggu.”
Dan semuanya lenyap.
Af’al kini berdiri di tengah padang luas yang sunyi.
Langit berwarna keperakan, angin berhembus tenang.
Ia menyadari satu hal:
bahwa kegelapan bukan tempat Tuhan tidak hadir,
melainkan tempat manusia berhenti melihat-Nya.
Dan untuk pertama kali dalam waktu yang lama,
ia tersenyum.
Langit menangis.
Tapi kali ini bukan hujan — melainkan butir cahaya yang jatuh dari langit bagai tetes air mata.
Mereka menimpa tanah, dan setiap tetesnya menumbuhkan bunga yang memancarkan sinar lembut.
Af’al berjalan di antara cahaya itu, tubuhnya penuh bekas luka dan lumpur yang belum hilang seluruhnya.
Setiap langkahnya meninggalkan jejak yang bercahaya, seperti bumi menyambut kepulangannya.
Namun dadanya masih kosong.
Ada ruang yang berdenyut di sana — rindu yang menolak padam.
Tiba-tiba, dari udara yang bergetar, terdengar suara lembut memanggil:
“Af’al…”
Suara itu seperti angin yang membawa aroma bunga yang hilang ingatan.
Ia menoleh ke segala arah, tapi yang ia lihat hanya hamparan cahaya dan kabut.
“Siapa… siapa di sana?”
“Aku.”
Dari balik kabut, muncul sosok perempuan berjubah putih — matanya bening seperti embun pagi, namun basah oleh air mata.
Dialah Nur.
Ia tidak berjalan, melainkan seolah meluncur di atas cahaya.
Af’al ingin berlari mendekat, tapi lututnya gemetar — rasa bersalah terlalu berat menahan langkahnya.
“Jangan dekat, Nur… aku masih kotor.”
Nur tersenyum, dan setiap senyumnya seperti membuka pagi.
“Air mata bukan untuk yang bersih, Af’al. Ia turun untuk yang luka.”
Af’al menunduk.
“Aku telah mengkhianati cahaya. Aku memilih lumpur, aku menolak panggilan.”
Nur mendekat, cahaya di sekelilingnya berdenyut lembut.
“Kau tidak menolak. Kau hanya belajar melalui kehilangan.”
“Tapi aku menjerumuskan diriku sendiri—”
“Itu karena kau ingin tahu sejauh mana cinta mampu mencari yang hilang.”
Af’al menatapnya, mata mereka bertemu — dan dalam sekejap, segala kenangan berputar cepat:
tawa, kesombongan, dosa, lumpur, dan rasa lapar pada kebenaran.
Semua itu runtuh seperti debu diterpa cahaya.
Lalu Nur mendekat lebih lagi. Ia menatap luka di dada Af’al.
“Luka ini…” katanya, menyentuh lembut,
“bukan hukuman. Ini pintu.”
Ketika jari-jarinya menyentuh kulitnya, cahaya menyala dari dalam tubuh Af’al.
Lumpur yang menempel padanya meleleh seperti lilin yang terbakar air mata.
Dari setiap luka, mengalir air jernih — bukan darah, tapi sinar cair yang harum.
Af’al menjerit, bukan karena sakit, tapi karena keharuan yang tak tertanggung.
“Nur… aku melihat! Aku bisa melihat!”
Dan memang — untuk pertama kalinya, ia melihat dunia bukan dengan mata,
melainkan dengan hati.
Ia melihat betapa seluruh semesta adalah denyut napas yang satu.
Bahwa Nafs bukan musuh, tapi anak kecil yang lapar kasih.
Bahwa Hawa bukan racun, tapi daya yang mencari keseimbangan.
Bahwa dirinya sendiri hanyalah cermin yang berdebu — dan Nur datang untuk membersihkannya.
Tapi belum selesai.
Dari kejauhan, terdengar tawa — bukan tawa Nafs, bukan suara Hawa.
Itu suara Ego lama Af’al yang berteriak dari dasar dirinya sendiri.
“Jangan percaya air mata itu! Itu hanya tipuan rasa!
Kau butuh kuasa, bukan penyesalan!”
Af’al memejamkan mata.
“Aku tak mau kuasa lagi. Aku mau pulang.”
Nur menatapnya dalam, lalu berbisik:
“Kalau begitu, biarkan aku menangis untukmu.”
Dan ia menangis.
Air matanya jatuh ke tanah, lalu mengalir menuju Af’al.
Cahaya itu menyelimuti tubuhnya, menghanguskan setiap sisa kegelapan yang tertinggal.
Dalam cahaya itu, ia melihat kilasan wajah Ilham —
yang tersenyum sambil membawa dua sahabatnya: Takhalli dan Tajalli.
Ilham berbicara, suaranya bergema bagai gema lembah yang penuh kesejukan:
“Af’al, inilah fajar setelah malam panjangmu.
Kami datang bukan untuk menyelamatkanmu,
tapi untuk menyaksikan bahwa cinta sejati tidak memerlukan alasan selain Tuhan.”
Af’al menunduk, sujud dalam tangis.
Ia mencium tanah yang kini berubah jadi cahaya.
“Aku telah berputar dalam ribuan ilusi,
tapi akhirnya kutemukan Engkau di titik lelahku.”
Nur berlutut di sampingnya, menyentuh bahunya.
“Kau tidak pernah jauh, Af’al.
Jarak hanyalah cerita yang dibuat oleh mata yang buta.”
Af’al menangis — bukan karena sedih,
tapi karena menemukan sesuatu yang bahkan kata “bahagia” tak sanggup menjelaskannya.
Dan saat itu, langit kembali terang.
Burung-burung cahaya terbang di atas kepala mereka.
Angin berbisik dengan lembut:
“Yang kembali dengan air mata, akan dijemput dengan pelukan.”
Af’al memandang Nur untuk terakhir kali sebelum cahaya menelan pandangannya.
“Kalau aku harus kehilangan dunia untuk melihatMu,
maka biarlah dunia hanyut bersama lumpurku yang lama.”
Nur tersenyum.
“Tak ada kehilangan dalam cinta yang sejati, Af’al.
Yang hilang hanyalah bayangan yang menghalangimu dari cahaya.”
Langit diam.
Cahaya meredup pelan.
Af’al berdiri sendirian di padang sunyi — tapi kini tanpa takut.
Ia tahu, air mata Nur telah menjadi kompas dalam dirinya.
Ia tahu jalan pulang sudah terbuka.
Dan di ujung cakrawala,
ada cahaya lembut yang memanggilnya —
seperti seseorang yang menunggu di beranda keabadian.
Pagi itu sepi seperti hati yang baru sembuh dari luka panjang.
Af’al duduk di tepi lembah, memandangi kabut yang pelan-pelan naik dari tanah basah.
Ia tak tahu, apakah itu kabut sungguhan — atau sisa napas dosa yang belum sepenuhnya terhapus.
Lalu datanglah Ilham —
berjalan tanpa langkah, seperti datang dari dalam pikirannya sendiri.
Ia memakai jubah abu muda, dan di dadanya tergantung sesuatu yang berkilau:
bukan kalung, melainkan seberkas cahaya yang berdenyut seperti jantung.
“Kau telah menempuh jauh, Af’al.”
Af’al menunduk.
“Aku tidak tahu apakah aku berjalan… atau hanya terseret oleh waktu.”
Ilham tersenyum lembut.
“Yang terseret adalah raga.
Tapi yang berjalan… adalah jiwa yang sedang pulang.”
Af’al memejamkan mata. Dalam sunyi itu, ia mendengar angin berbisik di antara dedaunan:
nama Nur, samar, seperti gema doa yang belum selesai.
Tak lama, dua sosok lain muncul dari kabut.
Yang pertama tampak muda dan berwajah damai — itu Takhalli,
roh yang memurnikan, yang mengajari manusia untuk melepaskan dunia.
Yang kedua tinggi, tenang, dan penuh sinar biru — Tajalli,
bayangan dari kebenaran yang menampakkan diri melalui keindahan.
Takhalli berbicara dulu, suaranya seperti air yang mengalir di batu:
“Af’al, kau telah menangis. Itu baik.
Tapi air mata tanpa pengosongan hanyalah air di permukaan.
Jika ingin pulang, kosongkan dirimu dari keakuan.”
Af’al menatapnya.
“Kosong? Lalu apa yang tersisa jika aku kosong?”
Takhalli tersenyum.
“Yang tersisa adalah Dia.”
Tajalli menatap Af’al lama, lalu berkata pelan:
“Kau ingin melihat Nur, tapi matamu masih mencari bentuk.
Kau ingin mendengar Ilahi, tapi telingamu masih menunggu suara.
Padahal cahaya itu bukan di depanmu, melainkan di balik dirimu sendiri.”
Af’al menggigit bibir.
“Aku… masih merasa manusia. Masih marah, masih ingin.”
Ilham mendekat, menepuk bahunya.
“Itulah kenapa kami diutus.
Kami bukan guru, tapi cermin.
Kami datang agar kau melihat wajahmu dalam pantulan-Nya.”
Hari berganti malam, malam berganti remang.
Af’al mulai diajarkan oleh ketiganya tentang perjalanan yang sebenarnya tak bergerak.
Takhalli mengajarinya melepaskan:
“Buang satu demi satu beban yang kau panggil kebutuhan.”
Dan setiap kali ia melepaskan satu keinginan, tubuhnya terasa lebih ringan —
seperti balon yang kembali ke langit.
Ilham mengajarinya menyadari:
“Setiap gerak yang kau sangka dari dirimu, sejatinya adalah gerak yang sama yang menggerakkan bintang.”
Dan Af’al pun mulai mendengar —
bahwa langkah kakinya memiliki irama yang sama dengan detak alam semesta.
Sedangkan Tajalli mengajarinya melihat:
“Keindahan bukan untuk dinikmati, tapi untuk dikenali.
Lihatlah bunga — ia tak sadar dirinya indah, namun keindahannya menjadi doa.”
Af’al terdiam, menatap bunga-bunga kecil di padang yang ia injak.
Setiap kelopaknya memantulkan cahaya lembut, dan di sana —
ia melihat wajah Nur, sekilas, lalu hilang.
Malam ketiga.
Ketiganya duduk mengelilingi api kecil.
Takhalli bertanya:
“Af’al, apa yang paling kau takutkan sekarang?”
Af’al berpikir lama.
“Bukan neraka. Bukan dosa.
Tapi aku takut tak pernah benar-benar pulang.”
Ilham tersenyum.
“Ketakutan itu doa yang tersamar.”
Tajalli menatap langit.
“Dan doa yang paling jujur, selalu dijawab.”
Tiba-tiba dari atas, turun cahaya.
Tapi bukan cahaya yang menyilaukan —
melainkan cahaya yang membuat segala sesuatu menjadi jujur.
Kabut lenyap.
Bayangan hilang.
Hanya tersisa keheningan yang bernapas.
Dan dari tengah cahaya itu terdengar bisikan:
“Af’al… sudahkah kau mengenali Aku dari balik segala kehilangan?”
Af’al menjawab pelan,
“Jika Engkau yang kucari dalam setiap rasa sakit,
maka mungkin selama ini aku tidak pernah benar-benar tersesat.”
Ilham berdiri.
“Perjalananmu belum selesai, tapi arahmu sudah benar.”
Takhalli tersenyum:
“Sekarang, lepaskan dirimu dari diri.”
Tajalli menutup matanya:
“Dan bersiaplah melihat bukan dengan mata,
tapi dengan cinta.”
Af’al menatap mereka satu per satu tiga wajah, tiga bayangan, tapi satu sumber cahaya.
Ia tahu kini bahwa Nur bukan sekadar kekasih —
melainkan rumah yang menunggu dalam setiap denyut doa.
Dan di antara getar cahaya itu,
ia mulai berjalan lagi — tapi kini tanpa langkah.
Langit malam bersinar tenang.
Burung-burung cahaya beterbangan di atas lembah.
Ilham, Takhalli, dan Tajalli lenyap perlahan,
menyisakan bisikan lembut yang melayang di udara:
“Kau telah menangis untuk dunia,
sekarang menangislah untuk cinta yang kekal.”
Dan Af’al pun menatap ke cakrawala,
di mana cahaya Nur tampak bergetar lembut seperti janji yang belum sepenuhnya terucap.
“Tunggu aku,” katanya.
“Kali ini, aku tak akan menoleh.”
Waktu telah menjadi kabut yang lembut.
Siang dan malam kini tak lagi berbeda — hanya dua warna dari napas yang sama.
Af’al berjalan di antara rerumputan kering, mengikuti jejak cahaya samar yang menuntunnya ke arah barat.
Angin membawa suara.
Kadang seperti tawa, kadang seperti panggilan.
Tapi entah mengapa, setiap suara itu datang, dadanya terasa penuh — seolah seseorang memanggilnya dari dalam darahnya sendiri.
“Nur…” bisiknya,
“aku masih mendengar namamu, tapi tak tahu dari mana datangnya.”
Langkahnya berat.
Rasa lelah kini bukan lagi di tubuh, tapi di hati.
Ia sudah menanggalkan dunia, sudah mengosongkan diri —
tapi rasa rindu itu justru semakin pekat, semakin melingkar, semakin menuntut kepulangan.
Di langit, awan menggantung seperti sayap yang patah.
Di tanah, bunga-bunga kecil tumbuh dari sisa air matanya yang pernah jatuh di situ.
Setiap kelopak bunga tampak seperti wajah Nur —
cantik, lembut, tapi selalu menghindar saat disentuh.
Af’al menunduk, berlutut di tanah, mencium kelopak itu dengan air mata.
“Mengapa Engkau sembunyi dalam bayangan,
sementara aku telah melepas semua yang bukan Engkau?”
Maka datanglah angin — bukan angin biasa,
tapi hembusan lembut yang membawa suara Ilham dari kejauhan.
“Af’al,” kata angin,
“Engkau telah belajar mengosongkan,
tapi belum mengikhlaskan kerinduanmu sendiri.”
Af’al menatap ke langit.
“Bagaimana mungkin aku ikhlas, Ilham,
jika kerinduan ini adalah satu-satunya hal yang membuatku hidup?”
Suara Ilham tertawa pelan, penuh kasih:
“Itulah, Af’al. Engkau masih ingin memiliki bahkan terhadap cinta.”
Hari berikutnya, ia menemukan dirinya di tepi danau.
Airnya jernih, tapi tidak memantulkan apa pun —
seolah dunia telah menolak bayangan.
Af’al menatap air itu lama, hingga akhirnya bertanya kepada dirinya sendiri:
“Apakah aku benar-benar ingin bertemu Nur,
atau aku hanya ingin memuaskan rinduku sendiri?”
Pertanyaan itu mengguncang seluruh jiwanya.
Ia mulai sadar — mungkin rindu itu bukan untuk memiliki,
melainkan untuk melepaskan dengan cinta yang tak butuh jawaban.
Saat malam turun, kabut kembali datang.
Tapi kali ini dari kabut itu muncul sosok samar —
seperti cahaya yang berwujud, tapi tak menyilaukan.
Af’al tahu siapa itu bahkan sebelum ia melihat jelas: Nur.
Ia berdiri, tapi lututnya gemetar.
Matanya basah, suaranya parau.
“Kau… benar-benar datang?”
Nur tersenyum.
“Aku tidak pernah pergi.”
Af’al menutup wajahnya, menahan tangis.
“Tapi mengapa aku tak bisa menemukanmu selama ini?”
“Karena kau sibuk mencari di luar,
padahal Aku bersembunyi di dalam air matamu sendiri.”
Af’al menatap wajah Nur.
Cantik — tapi bukan dalam cara dunia mengenal cantik.
Wajah itu seperti pendar dari ribuan makna: lembut, dalam, dan abadi.
Namun setiap kali Af’al mencoba mengingatnya, bentuknya berubah.
Sekali tampak sebagai perempuan, sekali sebagai cahaya,
kadang sebagai dirinya sendiri.
“Apakah Engkau Nur, atau aku yang sedang melihat diriku?”
Nur tersenyum:
“Aku adalah cermin tempat Engkau belajar mencintai yang sejati.”
Af’al bergetar.
“Lalu cinta apa yang masih tersisa untukku?”
“Cinta yang tak menuntut balasan,
yang hanya ingin melihat Tuhan tersenyum lewat wajah yang lain.”
Malam itu langit terbuka seperti halaman kitab.
Bintang-bintang turun perlahan, membentuk huruf-huruf cahaya.
Dan di tengahnya —
Af’al melihat wajah Nur yang terakhir kali: bukan di hadapan,
melainkan di dalam dirinya sendiri.
Ia tersenyum di antara air mata.
“Aku tak perlu lagi melihatmu,
karena kini aku tahu ke mana harus pulang.”
Ia berjalan tanpa arah, tapi setiap langkahnya kini ringan.
Angin membawa wangi bunga, tanah memeluk langkahnya dengan lembut.
Dari kejauhan terdengar suara Ilham lagi:
“Kau telah menyeberang dari rindu ke ridha, Af’al.
Dan setiap jiwa yang ridha, sudah separuh pulang.”
Af’al menutup matanya, menengadah, dan berbisik:
“Nur… aku tak akan mencari lagi.
Karena setiap nafas kini adalah namamu.”
Maka malam itu jadi saksi —
seorang pengembara yang kehilangan segalanya,
akhirnya menemukan cinta di tempat paling sepi: di dalam dirinya sendiri.
Dan di langit, satu bintang jatuh pelan,
seolah menulis pesan terakhir dari Nur:
“Jangan cari Aku. Jadilah Aku.”
Langit sore itu lembut.
Cahaya jingga menetes seperti madu dari ufuk barat.
Angin tak lagi mengaum,
ia hanya berbisik pelan di antara dedaunan yang sudah letih menari.
Af’al berdiri di atas padang gersang yang dulu ia kutuki sebagai tempat tersesat.
Kini padang itu justru tampak indah, tenang, dan penuh makna.
Bukan lagi tanah yang gersang —
tapi hamparan keheningan yang suci.
Ia menatap jauh,
dan entah dari mana, terdengar suara lembut itu lagi,
suara yang selama ini menjadi nadi dari perjalanannya:
“Af’al…”
Ia menoleh.
Dari ufuk timur datang cahaya — bukan matahari, bukan bulan.
Sebuah kereta dari cahaya, meluncur perlahan seperti doa yang menjelma rupa.
Roda-rodanya tidak menyentuh tanah,
dan setiap kilau di sisinya membawa gema nama Tuhan.
Di dalamnya — Nur tersenyum.
Tapi kali ini bukan sebagai sosok perempuan,
melainkan sebagai pancaran kasih yang tak bisa lagi diukur oleh rupa.
Af’al menunduk.
Air mata menetes, tapi bukan lagi air mata duka —
melainkan rasa syukur yang akhirnya menemukan arah.
“Jadi ini… rumahku?”
Nur menjawab dengan cahaya yang merangkul:
“Ini bukan tempat baru, Af’al.
Ini adalah dirimu sebelum engkau lupa siapa dirimu.”
Af’al menatap kedua tangannya.
Ia tak lagi merasa berat, tak lagi merasakan waktu.
Tubuhnya mulai larut dalam terang —
bukan terbakar, tapi dilebur menjadi kesejatian.
Di langit, gema sufi terdengar pelan,
seolah para malaikat sedang membaca puisi:
‘Yang mencari telah kembali,
yang rindu telah jadi cahaya,
yang jatuh kini terbang,
yang hilang kini pulang.’
Sebelum naik ke kereta, Af’al menatap bumi sekali lagi.
Ia melihat jejak langkahnya dulu:
tempat ia jatuh, tempat ia tertawa,
tempat ia menolak, tempat ia menangis.
Semuanya masih di sana — tapi kini tampak indah.
“Aku mengerti sekarang,” katanya pelan.
“Badai bukan untuk menghancurkanku,
tapi untuk membasuhku dari apa yang bukan aku.”
Nur tersenyum, membuka tangan.
“Setiap badai hanyalah pelukan Tuhan yang terlalu kuat.”
Af’al menatap wajah Nur, dan tersenyum dengan damai.
“Aku siap pulang.”
Kereta itu meluncur perlahan.
Setiap hembusan anginnya membawa harum melati dan zikir.
Langit berubah menjadi lautan emas.
Gunung, pohon, dan sungai menundukkan diri,
seolah turut mengantar kepulangan seorang jiwa yang telah mengenal dirinya.
Dan di saat terakhir sebelum cahaya itu menelan segalanya,
Af’al berbisik lembut:
“Terima kasih, Badai…
karena dari kerasmu aku belajar lembut.”
“Terima kasih, Nafs dan Hawa…
karena dari tipu dayamu aku belajar sadar.”
“Terima kasih, Nur…
karena dari rindumu aku belajar pulang.”
Ketika cahaya itu menghilang,
tinggallah padang yang hening dan sebatang bunga tumbuh di tengahnya —
bunga putih yang memantulkan cahaya rembulan.
Dan dari langit terdengar bisikan lembut,
tak jelas dari mana datangnya,
tapi menusuk hingga ke hati yang paling dalam:
“Ia telah pulang.
Ia tidak mati.
Ia kembali menjadi Nur dari Nur.”
Tamat — “Lelaki Badai”
Epilog
kepulangan, di mana setiap luka menjadi doa,
dan setiap rindu menjadi cahaya yang mengantar pada Yang Maha Cinta.
Komentar
Posting Komentar