Tanah, Tai, dan Tawa di Negeri yang Dijanjikan

 Di sebuah kampung Melayu yang sunyi, di tanah yang dijanjikan namun beraroma tai dan darah, berkumpullah para penjaga kebenaran—ataupun yang mengaku demikian. Ada seorang tok sufi yang merokok daun ketum, seorang tok guru yang mengusap janggut panjangnya penuh renungan, dan seorang pakar jiwa yang membawa kitab Freud lusuh. Mereka duduk di warung kopi tempatan, menyeruput pahit kopi sambil bertukar bicara.

"Kak, lihatlah," kata tok sufi, matanya menatap langit penuh abu perdebatan. "Tanah ini bukan milik Hang Jebat, Hang Tuah, atau Raja yang beriman. Tanah ini milik tiada seorang pun, bahkan Tuhan pun tiada kepemilikan."

Tok guru mengangguk pelan, suaranya lirih: "Memang, agama-agama telah menjadikan tanah ini seperti pasar malam — penuh janji, namun kosong makna."

Pakar jiwa tersenyum sinis: "Manusia takut pada ketiadaan. Maka mereka cipta mitos, seperti tiket surga. Padahal surga itu hanyalah simbol, gula-gula untuk memikat jiwa-jiwa tulus."

Tok sufi tertawa panjang, meneguk kopinya: "Kak, tahukah engkau yang lucu? Mereka berebut surga, sementara tanah ini basah oleh darah dan bau tai. Anak-anak Melayu membaling kami dengan tai, dan kini mereka campur dengan darah, mengklaimnya suci."

Tok guru menghela napas panjang: "Inilah manusia. Membuat birokrasi di pintu surga, padahal masuknya semudah senyum kepada diri sendiri."

Tawa mereka bergema, namun diselipkan air mata. Di kejauhan, anak-anak Melayu berdebat sengit tentang siapa yang paling berhak memegang kunci surga. Di antara mereka, hadir pula seorang perempuan nakal bernama Laila — penuh tawa nakal dan kata-kata provokatif. Ia membawa ember berisi tai, dilemparkan ke arah para penjaga kebenaran. Tai itu mendarat di kepala tok sufi, pundak tok guru, meja kopi, dan hati setiap orang yang hadir.

Tok sufi mengusap jidatnya: "Kak, Tuhan Maha Pengasih. Namun manusia menjadikannya seperti penghulu yang memerlukan kiriman sembah."

Pakar jiwa mengangguk: "Amal yang seharusnya jalan mengenal Tuhan telah menjadi sertifikat kepemilikan kasih-Nya."

Tok guru tersenyum getir: "Agama adalah omong kosong, dan kesadaran adalah jalan."

Tiba-tiba muncul sekumpulan ahli surga palsu dari aneka aliran, membawa kitab, syair, dan doktrin masing-masing. Mereka berdebat, berteriak, dan menuntut klaim hak atas surga. Laila malah tertawa, melemparkan kata-kata cabul kepada mereka: "Hai ahli surga palsu, kalian seperti tukang dagang surga di pasar malam!"

Tok sufi menghela napas panjang sambil meneguk kopi terakhirnya: "Islam bukan sekadar nama, melainkan jalan — tunduk dan selamat. Semua nabi adalah Islam, namun manusia membuat ribuan label baru."

Tok guru menambahkan: "Dan semua label itu adalah alasan untuk menuduh sesat."

Tok sufi tersenyum: "Aku tak ikut rebutan klaim surga, dan aku tak menganggap agama manapun benar. Tuhan menciptakan semua makhluk, maka Ia bukan milikku seorang."

Mereka diam, membiarkan kata-kata itu melayang seperti asap ketum. Di tanah yang dijanjikan, bau tai dan darah tetap membaur, dan tawa mereka menjadi doa yang tak terucap. Laila melangkah pergi, meninggalkan suara tawa yang bergaung hingga malam, sebagai saksi konyol bahwa di negeri ini, kebenaran adalah hal yang tak pernah pasti.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Cerpen puisi Akulah Yunimu sayang

Melelang Amalan

Cerpen: ANIMA