Diary of The lost Soldier KISAH SEORANG SERDADU YANG KALAH

Katanya Novella WIKO ANTONI 


Diary of The lost Soldier

KISAH SEORANG SERDADU YANG KALAH


Surabaya, November 1945.

Langit berwarna kelabu besi. Asap tebal naik dari bangkai truk-truk militer yang terbakar. Bau mesiu, darah, dan keringat bercampur seperti dupa dari zaman kiamat kecil. Di setiap sudut jalan, tubuh-tubuh bergelimpangan seperti patung rusak yang ditinggalkan pemahatnya.

Di gang sempit dekat Jembatan Merah, seorang gadis berlari kecil di antara puing—Ningsih, usia 22 tahun, berseragam Palang Merah Remaja yang sudah lusuh dan penuh bercak darah. Tangannya gemetar menggenggam kain kasa dan sebotol air. Ia bukan lagi gadis yang dulu suka menari di halaman sekolah. Perang menjadikannya seperti pohon ketapang di tepi pantai—tegak tapi patah di dalam.

Dari reruntuhan gedung tua peninggalan Belanda, terdengar suara lirih.

“Aku… masih hidup?”

Ningsih menoleh. Suara itu berat dan terputus-putus, dengan aksen aneh yang tak bisa ia tebak. Ia mengangkat pecahan papan, dan menemukan seorang lelaki asing terkapar. Seragamnya sobek, bahunya berdarah, kakinya tertembus peluru.

Matanya biru seperti laut yang kehilangan arah.

Lelaki itu mencoba tersenyum, “Help… I’m Frederick.”

Ningsih terpaku. Inggris.

Musuh sekaligus—anehnya—manusia.

“Diam,” katanya pelan dalam bahasa yang patah-patah. “Kau banyak darah.”

Ia menekan luka itu dengan kain, sementara hati kecilnya berperang lebih sengit daripada tembakan kemarin.

Bukankah ini orang yang menembaki rakyatnya?

Bukankah ini lawan yang menjarah tanah airnya?

Tapi di balik debu dan darah, Ningsih hanya melihat satu makhluk rapuh yang menatap langit sama sepertinya—sama-sama takut, sama-sama ingin pulang.

Malam itu, ia menyeret Frederick ke rumah kecilnya di Kampung Ketabang. Ayahnya, bekas pegawai kereta api, dan kakaknya yang TKR (Tentara Keamanan Rakyat), nyaris membentak mati.

“Gila kau, Ningsih!” seru kakaknya, Marwan. “Kau bawa musuh ke rumah pejuang?!”

“Ia sekarat,” jawab Ningsih. “Dan musuh pun masih manusia.”

“Manusia yang baru saja membunuh teman-teman kita!”

Namun ayah mereka, yang lebih tua dan lebih letih daripada usia yang tampak, hanya menatap diam. Ia berkata lirih,

“Kadang, yang menang perang bukan yang paling berani menembak, tapi yang paling berani mengampuni.”


Tiga hari berlalu.

Frederick terbaring di ruang belakang, diselimuti bau obat dan doa. Setiap kali sadar, ia melihat Ningsih duduk di sampingnya membaca sesuatu. Ia mengira itu kitab. Tapi itu ternyata buku kecil bertuliskan Wirid dan Doa untuk Para Pejuang.

“Apa yang kau baca?” tanya Frederick dengan lidah terbata-bata.

“Doa agar luka cepat sembuh,” jawab Ningsih, sambil menunduk.

“Do you… pray for me?”

“Untuk semua,” katanya datar. “Yang hidup. Yang mati. Yang tersesat.”

Frederick menatap wajah gadis itu lama. Dalam sorot matanya, ada sesuatu yang tak bisa ia pahami—bukan kasih, bukan takut, tapi kedalaman yang menelan waktu.

Seperti laut yang diam, tapi menyimpan badai.

Suatu malam, hujan deras mengguyur Surabaya. Ningsih duduk di dekat jendela, memandangi langit yang menetes air seperti air mata kota. Frederick terbangun, menggigil.

“Ningsih…” bisiknya pelan.

“Ya?”

“Why did you help me?”

“Karena… Tuhan tidak pernah ajarkan untuk memilih darah siapa yang harus diselamatkan.”

Frederick terdiam. Ia tak tahu apakah ia harus malu atau bersyukur.

Ia hanya menatap gadis itu lama-lama, hingga matanya terpejam oleh kelelahan dan rasa damai aneh yang baru pertama kali ia rasakan sejak meninggalkan Inggris.

Namun malam itu juga, di luar sana, suara teriakan terdengar dari pos penjagaan:

“Pak! Ada mata-mata Inggris di kampung ini!”

Ayah Ningsih menatap wajah anaknya dengan getir.

“Ningsih… apa yang kau bawa ke rumah ini bukan hanya tubuh orang, tapi badai yang takkan cepat reda.”


Surabaya, awal 1946.

Perang besar sudah reda, tapi bau mayat dan mesiu masih menempel di dinding waktu.

Rumah-rumah yang tinggal rangka jadi seperti kerangka sejarah yang belum sempat dikuburkan.

Di tengah kekacauan itu, rumah kayu keluarga Ningsih berdiri seperti saksi bisu: kecil, retak, tapi menyala dengan rahasia besar—ada seorang serdadu Inggris hidup di dalamnya.

Di luar, anak-anak kampung bermain di antara puing, sambil bernyanyi lagu perjuangan yang suaranya fals dan parau:

“Merdekaaa… merdekaaa… atau mati!”

Ironisnya, di balik jendela bambu yang tertutup kain putih, seorang yang seharusnya “mati” justru diselamatkan oleh seorang yang dianggap musuhnya sendiri.

Ningsih sedang mengganti perban luka Frederick. Tangannya cekatan, wajahnya datar, tapi sorot matanya tak bisa menyembunyikan semacam kekacauan lembut.

“Luka ini membaik cepat,” katanya, menatap bahu yang mulai tertutup kulit baru.

Frederick tersenyum kecil. “Thanks to your hands. Holy hands.”

Ningsih melotot sedikit. “Tanganku cuma punya dua, sama kayak orang lain.”

“Ya, tapi tanganmu tak takut darah,” balas Frederick. “Aku takut.”

Hening.

Dari luar, terdengar azan magrib. Suaranya mengalun pelan, menembus celah-celah bambu.

Frederick terdiam lama. “That sound… peace. Like prayer for the soul of the dead.”

“Itu ajakan untuk pulang,” kata Ningsih. “Untuk berserah.”

Keesokan harinya, suasana rumah berubah.

Kakak Ningsih, Marwan, pulang dari pos jaga dengan wajah tegang.

Ia melempar topinya ke meja dan menatap adiknya dengan tajam.

“Kau tahu, Ningsih? Tentara Inggris cari anggotanya yang hilang. Kalau ketahuan kau simpan dia, kau bukan cuma gila. Kau bisa digantung.”

“Aku tak peduli,” jawab Ningsih dingin. “Aku hanya menyembuhkan yang terluka.”

Marwan mendekat, menatap lurus ke mata adiknya.

“Kau tahu apa yang lebih berbahaya dari peluru? Simpati pada musuh.”

Ayah mereka, yang diam di sudut sambil menghisap rokok klobot, tiba-tiba bicara pelan,

“Anak muda, kadang simpati bisa menyelamatkan bangsa, bahkan sebelum peluru terakhir ditembakkan.”

Marwan mendengus. “Atau menghancurkan rumah sebelum pagi.”

Ia keluar, pintu dibanting.

Frederick yang mendengar dari kamar hanya bisa menatap tanah. “I bring trouble.”

Ningsih tersenyum tipis. “Kau bukan masalah. Kau ujian.”

Beberapa minggu kemudian, hubungan mereka jadi seperti bayangan di cermin: tak pernah bersentuhan, tapi selalu saling pantul.

Kadang Frederick mendengar Ningsih melantunkan doa dengan suara lembut, lalu tiba-tiba menangis diam-diam.

Kadang Ningsih mendapati Frederick menatap foto pasukan Inggris-nya sambil berkata lirih, “We came to bring peace, but we brought pain.”

Humor getir pun lahir dari keseharian absurd mereka.

Suatu pagi, Ningsih memberi Frederick bubur jagung.

Frederick menatapnya curiga.

“Ini… makanan tahanan?”

“Bukan. Makanan kemerdekaan.”

“Rasanya seperti perang dunia ketiga,” gumam Frederick.

“Cocok. Dunia memang belum selesai berperang,” balas Ningsih datar, lalu tersenyum kecil.

Namun malam itu, ketika Ningsih tidur di dapur, Frederick tak bisa memejamkan mata.

Ia mendengar suara guntur di luar, tapi dalam pikirannya, guntur itu berubah menjadi suara tembakan.

Bayangan perang kembali datang:

kawan-kawan seperjuangannya mati di laut, kapal terbakar, dan perintah dari komandannya yang dingin—

“No mercy. They are rebels.”

Frederick menutup telinga, gemetar.

Ningsih yang terbangun segera berlari ke kamarnya.

“Fred! Kenapa?”

“I killed… I killed them… I killed your people!” teriaknya, matanya kosong.

Ningsih menatapnya lama, lalu berkata pelan,

“Yang kau bunuh hanyalah tubuh, bukan jiwa. Dan yang kusembuhkan sekarang bukan lukamu, tapi jiwamu.”

Frederick terdiam.

Air matanya jatuh, pelan-pelan, seperti hujan pertama setelah musim kering panjang.

Keesokan paginya, ia mulai berjalan di halaman untuk pertama kalinya tanpa tongkat.

Anak-anak kampung menatap dari jauh, menunjuk-nunjuk.

“Eh bule lho! Tentara Inggris itu!”

“Jangan-jangan hantu kolonial!”

Frederick menatap mereka lalu tersenyum, melambaikan tangan.

Anak-anak malah kabur sambil teriak, “Hantu! Hantuuu!”

Ningsih tertawa lepas dari dapur.

“Lihat, bahkan anak kecil takut pada masa lalu,” katanya.

Frederick tertawa kecil juga. “Tapi mungkin masa depan masih berani menatapku.”

Surabaya, pertengahan 1948.

Kota sudah tenang—katanya. Tapi ketenangan itu seperti kaca jernih di atas kuburan: indah, tapi menyimpan ngeri.

Di bawah bendera merah putih yang kini berkibar penuh di kantor-kantor pemerintah, jejak perang masih menempel di tembok dan hati.

Dan di salah satu rumah bambu di gang Ketabang, seorang bule dengan sarung melingkar di pinggang sedang menjemur pakaian sambil menyenandungkan lagu Ya Lal Wathan.

Namanya Frederick, tapi kini warga kampung memanggilnya “Pak Fredo.”

“Fredooo… air cucian bocor lagi!”

Suara itu milik Ningsih, kini berambut agak panjang dan sering disanggul seadanya.

Sejak sembuh total, Frederick ikut bekerja: kadang bantu di warung tetangga, kadang mengajar anak-anak kampung bahasa Inggris dengan bayaran dua pisang rebus dan segelas kopi pahit.

Tapi bagi warga, tetap saja:

“Bule kok sarungan?”

“Eh itu yang dulu katanya mata-mata Inggris ya?”

“Bukan, itu bule insaf.”

Frederick tertawa setiap kali dengar gosip itu.

“Lucu ya, dulu aku dianggap penjajah, sekarang dianggap tukang cuci.”

Ningsih membalas tanpa menatap, “Jangan sombong. Tukang cuci lebih berguna dari penjajah.”

Mereka tertawa — tawa yang entah karena gembira, entah karena letih menyembunyikan sesuatu.

Suatu sore, Frederick duduk di beranda, memandangi langit senja. Warna jingganya menetes di matanya seperti nostalgia.

Ia berkata lirih, “Di Inggris, langit begini artinya hujan sebentar lagi. Di sini, langit begini rasanya seperti doa.”

Ningsih yang duduk di sampingnya menjawab,

“Langit cuma satu, Fred. Hati kita yang beda.”

Hening beberapa detik.

Kemudian Frederick berbisik, “Ningsih… aku ingin pergi.”

Ningsih menatap cepat. “Pergi?”

“Ya. Aku ingin mencari pasukanku. Atau… paling tidak, tahu apakah negaraku masih menganggapku hidup.”

Wajah Ningsih seketika berubah datar.

“Lalu untuk apa aku sembunyikan kau tiga tahun ini? Supaya kau bisa pergi begitu saja?”

Frederick menunduk. “Aku… aku hanya ingin menebus masa lalu.”

“Dengan meninggalkan masa kini?” Ningsih menatapnya lama, lalu berdiri. “Kau bebas, Fred. Tapi jangan kembali kalau cuma mau minta maaf.”

Ia masuk ke rumah, menutup pintu perlahan.

Frederick duduk lama di beranda, diam seperti batu yang mulai ditumbuhi lumut penyesalan.

Malam itu, ia pergi diam-diam.

Namun begitu sampai di luar kampung, dua pemuda berseragam lusuh menghadangnya.

“Eh, ini bule?”

“Masih banyak aja sisa penjajah!”

Frederick panik. “Saya bukan tentara lagi! Saya tinggal di kampung Ketabang—”

Satu dari mereka memotong, “Ah, alasan klasik. Semua penjajah bilang begitu sebelum kabur!”

Untung, sebelum situasi memanas, datang seorang kiai tua bersepeda.

“Jangan macam-macam! Itu murid ngaji saya!”

Pemuda itu terdiam. “Ngaji, Kyai?”

“Iya. Hafalannya aja lebih rapi dari kamu,” kata sang kiai setengah bercanda, setengah sindir.

Pemuda-pemuda itu pergi sambil menggerutu.

Frederick menunduk dalam-dalam. “Terima kasih, Kiai.”

Kiai itu menepuk bahunya. “Nak, jangan takut pada masa lalu. Takutlah pada masa depan yang tak kamu hadapi.”

Esok paginya, Ningsih mendapati Frederick sudah pulang.

Wajahnya lelah, bajunya penuh debu. Ia duduk di dapur, menatap panci kosong.

“Aku nyaris dipukuli orang semalam,” katanya pelan. “Tapi entah kenapa, aku malah berpikir… mungkin aku pantas dipukul.”

Ningsih mendesah. “Bukan dipukul yang kau butuh. Tapi diterima.”

Frederick menatapnya, lalu berkata dengan nada pelan, seperti doa yang takut terdengar:

“Kalau begitu, izinkan aku jadi bagian dari tanah ini. Aku ingin menanam akar.”

Ningsih tertawa kecil, tapi matanya berkaca.

“Bule kok mau jadi akar?”

“Karena pohon tanpa akar cuma hiasan, bukan kehidupan.”

Beberapa bulan kemudian, Frederick resmi masuk Islam.

Nama barunya: Fadhlurrahman, tapi warga kampung tetap memanggilnya “Fredo.”

Ia belajar shalat, ikut ronda, bahkan sesekali membantu menulis surat cinta untuk pemuda-pemuda kampung yang naksir gadis tetangga (dengan grammar Inggris super kacau yang membuat semuanya lebih lucu daripada romantis).

Kadang, ia melihat Ningsih dari jauh.

Senyumnya tetap sama—lembut tapi tak tertebak.

Ia ingin bilang cinta, tapi setiap kali ia buka mulut, udara terasa terlalu berat untuk diucapkan.


Surabaya, tahun 1950

.

Delapan tahun berlalu sejak dentuman terakhir meriam di kota ini. Tapi suara perang tak pernah benar-benar pergi—ia hanya berpindah ke dada manusia.

Rumah bambu di Ketabang kini jadi warung kecil.

Ningsih menjual teh dan nasi jagung untuk para pekerja pelabuhan.

Dan di belakang warung, seorang bule bersarung sedang mengaji dengan suara berat dan logat aneh:

“Alham… dulilahi… robbil… alamin…”

Anak-anak kampung ngakak di luar jendela.

“Bule salah tajwid lagi!”

“Eh tapi dia lebih hafal dari Pak RT loh!”

Ningsih keluar sambil membawa panci panas, menegur lembut tapi tajam,

“Sudah, kalian! Jangan ketawa di depan orang yang sedang belajar.”

Anak-anak langsung bubar, masih cekikikan.

Frederick menatap Ningsih dari balik pintu, wajahnya seperti anak kecil yang ketahuan mencuri roti.

“Aku bikin mereka tertawa lagi.”

“Ya,” kata Ningsih, sambil tersenyum tipis. “Tapi tawa itu lebih baik daripada peluru, Fred.”

Namun kedamaian tak bertahan lama.

Suatu siang, ketika Fredo sedang menjemur sarung, datang mobil jip berpelat diplomatik berhenti di ujung gang.

Dua pria bersetelan safari turun.

Salah satunya berbicara dalam bahasa Inggris yang rapi.

“We are looking for Sergeant Frederick John Weston. He was missing in action in Singapore. We have reports he might be here.”

Fredo terpaku. Dunia lamanya menatap dari balik kaca mobil.

Ningsih yang baru keluar dari dapur menatapnya tajam.

“Siapa mereka?”

Fredo menelan ludah. “Mereka… dari masa laluku.”

Pria itu mendekat, mengulurkan map foto.

“This is you, isn’t it? We thought you were dead.”

Fredo menatap foto itu lama: seorang pemuda berseragam gagah, tegap, penuh percaya diri.

Ia menatap wajahnya kini di bayangan panci—jenggot tumbuh, mata redup, kulit gelap terbakar matahari Jawa.

“I used to be him,” katanya pelan. “Now I’m… nobody.”

Setelah orang-orang itu pergi, Ningsih diam.

Ia duduk di beranda, menatap tanah.

“Jadi benar, kau dulu tentara Inggris?”

Fredo mengangguk.

“Dan aku sembunyikan musuh negaraku sendiri?”

Fredo menatapnya dalam, “Aku bukan musuhmu, Ningsih. Aku musuh bagi diriku sendiri.”

Ningsih bangkit, berjalan ke dapur tanpa berkata apa-apa.

Fredo tahu: diamnya Ningsih bukan amarah — tapi kekecewaan yang lebih dalam dari kata “maaf”.

Malamnya, hujan turun deras.

Fredo duduk di depan rumah, menatap air yang menetes dari atap bambu.

Dalam hatinya, perang kembali bergemuruh: antara panggilan tanah kelahirannya dan bisikan bumi yang kini menahannya.

 “Lord… or Allah… whoever hears me first, tell me: where is my home?”

Jawaban datang lewat suara lembut di belakangnya.

“Di tempat kau berani jujur,” kata Ningsih, membawa secangkir teh panas.

Fredo menatapnya lama.

“Kalau aku jujur… aku ingin tinggal. Tapi aku takut.”

Ningsih duduk di sampingnya. “Semua orang takut, Fred. Bahkan aku takut mencintaimu.”

Kata itu menggantung di udara.

Seperti doa yang meleset tapi tetap sampai.

Beberapa minggu kemudian, kabar besar datang: pasukan Inggris resmi menarik semua klaim terhadap tentara yang hilang.

Fredo bebas.

Tapi di dalam dirinya, justru muncul perang yang baru.

Ia mulai sering ke masjid, duduk di pojok, membaca kitab kecil terjemahan.

Ketika ditanya ustaz, “Kau cari apa di situ, Nak Fred?”

Ia menjawab, “Aku cari Tuhan yang tak punya bendera.”

Suatu sore, Ningsih datang dengan berita.

“Ibu ingin kita menikah.”

Fredo nyaris menjatuhkan cangkirnya.

“Menikah? Aku—aku tak pantas. Aku masih… setengah asing.”

Ningsih tersenyum kecil. “Kau pikir aku lahir dari tanah yang tak asing? Semua manusia asing, Fred. Sampai dia menemukan jiwa yang membuatnya pulang.”

Beberapa bulan kemudian, mereka menikah diam-diam.

Tak ada pesta, hanya doa pendek di beranda rumah, disaksikan ayah Ningsih dan kiai kampung.

Kiai itu berkata,

“Cinta bukan tentang dua tubuh yang bersatu, tapi dua jiwa yang berhenti berperang.”

Fredo menatap Ningsih dengan mata basah.

Sejak hari itu, Surabaya tak lagi baginya sekadar kota perang, tapi tanah suci—tanah yang mengajarkan arti pengampunan.

-Langit Surabaya sore itu menggantung abu-abu. Angin laut membawa aroma asin dan debu pasar.

Ningsih sedang menjemur pakaian Zaskia yang baru berumur dua tahun ketika tukang pos datang — dengan amplop tebal bersegel kerajaan Inggris.

Ia menatap nama di depan surat itu:

“To: Sergeant Frederick John Weston, formerly British Army.”

Dunia berhenti sejenak.

Fredo yang sedang memperbaiki genteng di atap, menoleh ketika mendengar Ningsih berteriak pelan,

“Fred… surat dari negerimu.”

Ia turun perlahan. Tangannya gemetar waktu menerima amplop itu.

Cap resmi kerajaan terasa seperti beban sejarah di ujung jari.

Ia membuka dengan hati-hati, dan selembar foto jatuh ke tanah:

Seorang wanita bergaun musim dingin bersama bocah lelaki berumur lima belas tahun.

Di belakang foto tertulis tulisan tangan rapi:

“We’ve never stopped waiting.” — Jennifer & Johan.

Fredo terduduk lama.

Matanya kosong, bibirnya bergetar tapi tak ada suara.

Ningsih mengambil foto itu.

“Siapa mereka?”

Fredo menatapnya. “Istriku… dan anakku.”

Sunyi.

Hanya suara angin dan burung gereja yang lewat di atas atap.

Ningsih menatap laut jauh di belakang rumah.

“Jadi, aku ini siapa, Fred?”

Fredo menunduk. “Orang yang membuatku hidup lagi.”

“Dan dia?”

“Orang yang memberiku alasan untuk pulang dulu.”

Malamnya, hujan turun deras.

Fredo duduk di depan jendela dengan surat yang sudah lembab di tangannya.

Isinya pendek, tapi tajam seperti duri:

“If you are alive, come home. Johan deserves to know his father.

I will not wait forever.”

Ningsih menatap dari dapur.

“Pergilah,” katanya lirih.

Fredo menoleh cepat. “Apa?”

“Pergilah. Aku tak mau jadi dosa antara seorang ayah dan anaknya.”

“Tapi—”

“Cinta yang benar tak melawan takdir, Fred. Ia hanya menunggu sampai Tuhan memeluk keduanya.”

Air mata jatuh di pipi Ningsih, tapi ia tersenyum.

“Pergilah. Tapi jangan pulang sebagai orang yang sama.”


London, 1951.


Salju turun halus di depan Victoria Station.

Fredo berdiri di sana — mengenakan jas lusuh yang dulu dibelikan Jennifer sepuluh tahun lalu.

Ia menatap jam besar di menara.

Dan di antara kerumunan, seorang wanita bergaun hitam berjalan cepat, disertai seorang remaja pria berwajah campuran Eropa buah cintanya di Tanah ini yang ia pijak. Tanah Eropa.

Jennifer berhenti tepat di depannya.

Ia terisak pelan. “You’re alive…”

Fredo tersenyum lemah. “I’m breathing. That’s not the same thing.”

Johan menatapnya. “Are you… my father?”

Fredo menunduk. “Once, maybe. Now I’m just someone trying to deserve that word.”

Jennifer menangis. “Why didn’t you come home?”

“Because I found home somewhere else.”

Kalimat itu menghantam keduanya.

Tapi di balik perih, ada kejujuran yang hangat — seperti luka yang akhirnya dibersihkan setelah bertahun-tahun busuk di bawah perban.

Hari-hari di London berjalan aneh.

Fredo sering pergi ke masjid kecil di bawah jembatan Waterloo.

Ia membaca Qur’an dengan aksen Jawa yang kental.

Imam tua dari Mesir sering menepuk bahunya dan berkata,

 “You’re not from East nor West, brother. You’re from the light.”

Jennifer tahu: pria yang ia cintai dulu telah mati di Surabaya — tapi yang berdiri di depannya kini adalah jiwa baru yang tak bisa lagi ia miliki.

Suatu malam, di meja makan, Jennifer berkata pelan:

“Do you still love her?”

Fredo menatap lilin yang nyaris padam.

“Yes.”

“Then why are you here?”

“Because even love must learn to say goodbye properly.”

Musim semi datang.

Jennifer mulai sakit keras.

Johan sering menemani ayahnya ke masjid, menatap kagum ketika ayahnya sujud dalam diam.

Suatu sore, di tepi Sungai Thames, Johan bertanya,

“Do you think God forgave you?”

Fredo tersenyum. “I think He never blamed me. He just wanted me to find Him — even if I got lost on the way.”

Beberapa minggu kemudian, Jennifer meninggal dunia.

Dalam surat wasiatnya, hanya ada satu kalimat:

 “Let him go home. There’s a little girl in Surabaya who deserves to know her father.”

 Fredo menangis untuk pertama kalinya sejak perang.

Tapi kali ini bukan karena kehilangan, melainkan karena pengampunan.

Ia menatap langit London dan berbisik:

“Ya Rabb, aku akan pulang — bukan ke negeri, tapi ke diriku sendiri.”


Surabaya pasca Agresi Belanda, 1952


Angin laut utara berhembus getir. Bau asin bercampur amis besi, seolah laut menyimpan darah yang belum selesai dilupakan.

Ningsih berdiri di tepi pantai Kenjeran.

Tangannya menggenggam sehelai surat lusuh dari Inggris — surat yang dibawa burung pos diplomatik tiga bulan lalu.

Surat itu berisi kalimat pendek:


“Aku pulang.


— Fredo


Ia membacanya berulang, tapi setiap kali, suaranya tercekat seperti ada pasir di tenggorokannya.

Tiga tahun ia membesarkan Zaskia sendirian.

Menjual perhiasan, menjahit baju tentara, menjadi juru rawat bayaran di rumah sakit Belanda yang dulu ia benci.

Tapi yang paling berat bukan lapar, bukan juga cemooh tetangga —

melainkan menunggu seseorang yang mungkin tak lagi sama.

Malam itu Surabaya seperti menahan napas.

Di kejauhan, kapal asing berlabuh.

Dan dari kapal itu, turun seorang lelaki berjas panjang, berjalan dengan tongkat di tangan kanan.

Rambutnya sebagian putih.

Tapi langkahnya masih tegas, seperti dulu — seperti seorang serdadu yang sudah berdamai dengan medan perang.

Ia berhenti di depan rumah kecil bercat hijau pudar.

Lampu minyak di teras bergoyang tertiup angin.

Ningsih membuka pintu.

Dan dunia berhenti sebentar.

“Kau benar-benar pulang,” katanya lirih.

“Bukan untuk menagih, tapi untuk memohon maaf,” jawab Fredo.

Di dalam rumah, Zaskia bersembunyi di balik tirai.

Matanya bulat, takjub pada sosok asing yang memanggil ibunya dengan suara bergetar.

Ningsih memeluk anaknya, lalu berbisik,

 “Itu ayahmu, Nak.”

Zaskia menatap lama.

“Yang di cerita, Bu?”

“Ya. Tapi kali ini bukan cerita.”

Malam itu mereka makan nasi jagung dan ikan asin.

Fredo memandang tiap sudut rumah — setiap benda terasa seperti pengakuan: hidup keras, tapi jujur.

Ia menatap Ningsih dan berkata pelan,

 “Di London aku mencari Tuhan. Tapi di sini, aku merasa Ia sudah lama menungguku.”

Ningsih tertawa pelan, getir.

“Laut yang sama, Fred, tapi arah perahu kita beda.”

Hari-hari berikutnya berjalan aneh.

Orang kampung mulai bergosip,

"Si Ningsih itu, dulu pelihara orang Inggris, sekarang balik lagi jadi suaminya!"

Ningsih tak peduli, tapi Fredo menunduk tiap kali lewat pasar.

Ia tahu dosa sejarah tak bisa ditebus dengan sekadar doa.

Namun tiap sore, ia duduk di tepi laut bersama Zaskia.

Mengajari gadis kecil itu menulis huruf Arab dan membaca Al-Fatihah dengan logat Inggris yang kocak.

 “Bismillahi roh… roh…?”

“Rohman, Pa!”

“Yes, that one. Beautiful.”

Mereka tertawa bersama.

Dan di balik tawa itu, Ningsih menyembunyikan getar aneh — campuran bahagia dan takut kehilangan lagi.

Suatu malam, Fredo membawa Ningsih ke tepi dermaga.

Ia mengeluarkan sebentuk cincin tua dari sakunya.

“Jennifer memberikannya padaku sebelum meninggal. Ia bilang… ini bukan milikku lagi. Katanya, berikan pada perempuan yang membuatku mengenal cahaya.”

Ningsih menatap cincin itu.

Air matanya jatuh tanpa suara.

“Fredo, aku tak mau jadi pelarian masa lalumu.”

“Tidak,” katanya. “Kau adalah masa depanku yang disembunyikan Tuhan di ujung dunia.”


Waktu berjalan.

Fredo mulai diterima masyarakat sebagai penerjemah di pelabuhan.

Zaskia tumbuh jadi gadis cerdas, senang menulis dan melukis laut.

Ia selalu berkata,

 “Ayah bilang, laut itu tempat Tuhan menulis rahasia-Nya.”

Namun, kabar dari Jakarta datang:

Pemerintah membuka kembali kasus tentara asing yang tertinggal di Indonesia.

Fredo bisa dideportasi bila tak mengurus kewarganegaraan.

Ningsih menggenggam tangannya,

“Kalau mereka memintamu pulang lagi?”

Fredo tersenyum.

“Kali ini, rumahku bukan di negeri, tapi di hati kalian.”


Jakarta, 1961

Kereta dari Surabaya tiba di Stasiun Gambir pukul 06.30 pagi.

Langit Jakarta berkabut kelabu, seperti menahan rahasia yang belum ingin diucapkan.

Dari jendela kereta, Ningsih menggandeng tangan Zaskia, gadis belasan tahun yang kini berambut tebal dan bermata teduh seperti ayahnya — Frederick.

Di seberang peron, lelaki itu berdiri dengan wajah gelisah — jas sederhana, rambut mulai memutih, dan mata yang menyimpan badai.

Tapi bukan dia yang paling membuat jantung Ningsih berdetak cepat.

Di samping Fredo berdiri seorang remaja lelaki tinggi, tampan, mengenakan jas abu-abu.

Tatapannya tajam tapi penuh tanda tanya.

Dialah Johan Cooper — anak Frederick dari istri Inggrisnya, Jennifer.

Dan dunia seakan berputar aneh.

Satu cinta, dua rahim.

Satu sejarah, dua jalan hidup.

Kini mereka semua berdiri dalam satu peron, di bawah jam besar yang berdetak keras seperti hati yang tak siap berdamai.

“Mother?” Johan membuka percakapan dengan suara berat, aksennya kaku tapi jujur.

“Aku tak tahu harus memanggilmu apa,” katanya menatap Ningsih.

Ningsih hanya tersenyum pelan.

“Kau bisa memanggilku Ningsih. Aku bukan siapa-siapa. Hanya perempuan yang menjaga ayahmu saat dunia menolak.”

Zaskia yang sejak tadi diam, tiba-tiba maju.

“Jadi kamu… kakakku?” katanya dengan mata berbinar, polos, dan sedikit gugup.

Johan menatap gadis itu lama — lalu tertawa pelan.

“Kalau begitu, aku mungkin kakak yang lahir di sisi lain dari lautan dosa,” ucapnya getir.

Mereka berjalan ke luar stasiun.

Jakarta sedang belajar berdiri di bawah kaki modernitas, tapi aroma arang, keringat, dan debu belum pergi.

Becak-becak berderet seperti doa orang miskin.

Zaskia menatap sekeliling dengan mata kagum.

“Semua orang tampak sibuk mencari sesuatu,” gumamnya.

Johan menjawab, “Ya. Di Inggris orang sibuk kehilangan, di sini orang sibuk mencari.”

Lalu ia menatap ayahnya.

“Dan kau, Pa? Sibuk apa sekarang?”

Fredo menghela napas.

“Sibuk menebus.”


Kembali ke beberapa  waktu berlalu 


Satu malam sebelum Jennifer meninggal.


Jennifer duduk di tepi ranjang, menatap foto Fredo di Surabaya.

“Jika kau masih hidup,” katanya pada udara, “temukanlah perempuan itu. Jangan benci dia. Aku ingin tahu wajah cinta yang membuatku kalah tapi juga membuatku mengerti Tuhan.”

Surat itu disimpan di saku jas Johan, dan kini — di Jakarta — ia berikan kepada Ningsih.

Ningsih membaca, lalu menutup mulutnya, menahan tangis.

“Dia… dia lebih perempuan dari aku,” bisiknya. Hari-hari berikutnya mereka tinggal di rumah sewa di daerah Menteng kecil.

Fredo bekerja di kedutaan Inggris, membantu menerjemahkan dokumen perang.

Zaskia bersekolah di SMP Muhammadiyah.

Johan kuliah di Fakultas Teknik Universitas Indonesia, kampus Salemba.

Dua darah muda yang seharusnya bersaudara, tapi anehnya justru saling mengagumi.

Bukan cinta, tapi ada sesuatu yang lebih halus dari cinta — semacam pengakuan takdir.

Mereka sering duduk berdua di taman Cikini, berbagi cerita.

Zaskia menulis puisi, Johan melukis langit sore Jakarta.

“Kau tahu, Zak?” kata Johan suatu sore.

“Aku pikir Tuhan itu tak adil — tapi mungkin Ia justru humoris. Ia buat kita lahir dari orang yang sama, tapi di dua benua, biar kita saling belajar.”

Zaskia tersenyum.

“Dan kau belajar apa dari aku?”

“Bahwa cinta bisa suci tanpa harus dimiliki.”

Malam menjelang wisuda Johan, 1967.

Jakarta mulai menata diri, tapi politik berdesir seperti bara.

Di antara para wisudawan berdasi, Johan berdiri di podium — mengangkat selembar kertas puisi berjudul “Lelaki Badai.”

 “Aku bukan pengemis cinta,

yang takluk pada tatap tajammu.

Aku adalah lelaki badai,

yang belajar dari laut —

bahwa setiap gelombang

adalah doa yang belum selesai.”

Di kursi tamu, Ningsih menggenggam tangan Zaskia, menahan air mata.

Dan di barisan belakang, Fredo berdiri, memakai peci hitam — tanda kecil bahwa ia sudah menanggalkan mahkota dunia baratnya.

Ketika Johan selesai membaca, ia menatap Fredo dan berkata dengan suara pecah:

“Terima kasih, Ayah. Karena telah mengajarkan, bahwa manusia bisa memiliki dua ibu — tapi hanya satu Tuhan yang memaafkan.”

Tepuk tangan menggema.

Zaskia berlari naik ke panggung, memeluk kakaknya.

Di bawah sorot lampu panggung, dua darah yang terpisah sejarah akhirnya bersatu — bukan dalam garis keturunan, tapi dalam kesadaran jiwa.


WIKO ANTONI 21-10-25

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Cerpen puisi Akulah Yunimu sayang

Melelang Amalan

Cerpen: ANIMA