Postingan

Menampilkan postingan dari September, 2025

CERPEN PUISI MERDEKA TAPI TERAMPAS

PALESTINA ADALAH KITA PALESTINA ADALAH DUNIA  https://youtu.be/bQpRVTOfIls?si=RKW1kHIWGyKomUaR Azkinazi bukan Yahudi  Zionis bukan wajah para nabi Azkinazi  Bukan Yahudi  Zionis  bukan wajah para nabi pesta palsu para penipu  di negeri para nabi yang pilu menjerit menolak kejahatan  namun di bungkam keserakahan  palestina adalah kita nan di peras diadu domba didustai kalimat duka nan membakar semangat maut  milik mereka siapa yang bagi milik yahudi siapa akui nan nyata iblis pembawa api  menyalakan dusta abadi  palestina merdeka'  palsu pengakuan nan jua tipu agamapun telah di noda  Tuhan suci telah dijual  hanya darah hanya darah hanya maki hanya maki dipijak kaki Azkinazi  mereka telah biasa menipu dunia melalui berbagai pembenaran dusta palestina tidak merdeka  hanyalah dihibur dengan sementara  milik mereka siapa yang bagi tanah mereka  siapa yang pergi.... “Tanah yang Dijanjikan: Opera Para Pe...

Cerpen puisi Akulah Yunimu sayang

Gambar
AKULAH YUNIMU SAYANG PUISI WIKO ANTONI aku mencintai mu dengan cara ku sendiri aku memaknai mu dengan tafsir ku sendiri warnaku kusam untuk cahaya dunia biar kau membasuh dengan air mata luka ku dalam perih mengiris biar ku sembuh dengan menyayangmu selalu kekasih... membawa tangkai bunga layu diwarna... cita cinta nan suram kelam kabut dan aku biarkan bunga dihati saat kau melangkah pergi karena aku menadah ludah ini dihatimu nan tak mampu ku beri... oh. kedamaian... aku berulang kembali pada doa namun kau tersesat jalan tuk pulang adakah penjelasan nan pantas buat kau paham tentang diriku atas segala dosa dan salah atas segala langkah resah nan tak bisa juga ulang semula... bakmana... tuka basuh dan bersihkan diri dari noda... yang kukikis namun tetap nyata puas ku basuh semua... bagiku kau tetap nista jua.... akulah Yunimu sayang akulah cintamu kasih walau kau melangkah dengan luka namun disini kau kekal abadi bagai matahari nan setia setiap pagi menyapa ----cerpen---wiko Antoni ---...

Melelang Amalan

 Di suatu petang nan sendu, tatkala matahari menguning macam koin tua tergantung di ufuk, seorang lelaki duduk di tepian surau tua. Surau itu sudah lapuk, dinding papan hitam dimakan lumut, dan atapnya bocor menitikkan air kala hujan. Lelaki itu bukan imam, bukan pula guru. Ia cuma seorang perantau pulang kampung dengan dada penuh pertanyaan. Tangannya menggenggam tasbih, tapi bukan untuk berdzikir. Lebih seperti pedagang menimbang manik-manik emas di pasar. Satu demi satu butiran kayu itu ia hitung, seolah-olah setiap “subhanallah” yang pernah ia sebut punya harga, punya nilai tukar di pasar langit. “Dak dadah oleh segala bayangan…,” gumamnya. Bayangan-bayangan itu adalah catatan panjang: shalat yang dikerjakan sekadar menutup hutang, sedekah yang diberi dengan pamrih, doa-doa yang berisik memohon surga tapi kerap lupa bersyukur. Ia merasa macam pedagang yang kalah modal. Semua kebaikan yang ditanamnya, ia kira akan kembali jadi pohon rindang. Nyatanya, hanya semak belukar tumbuh:...

Pendakian Sia-Sia

 Cerpen – Wiko Antoni Di kaki lembah nan redup, aku berdiri menatap dinding terjal, tebing mimpi nan tak sudah. Kabut pagi bergayut rendah, seperti tangisan yang tak kunjung tumpah dari pelupuk langit. Tanah gambut menghembuskan bau basah, sungai di bawah sana berliku bagai urat-urat kesedihan yang mengalir jauh, membawa serta harapanku ke muara nan tak pasti. Sejak mula, hidupku bagaikan rantau panjang yang tak ada sauhnya. Aku mendaki, menapak kerikil-kerikil yang menikam telapak, berharap sampai pada puncak nan dijanjikan cahaya. Kudengar bisik orang kampung: “Naiklah, di sana ada harapan, di sana ada megah.” Maka aku pun menjeratkan luka sebagai bekal, dan berangkat dengan dada menyala, meski nafas sendiri sering patah oleh bayangan kecewa. Tatkala langkah pertama kuangkat, kudapati dunia bagai musuh berselubung. Tebing itu licin, cadasnya tajam. Setiap genggaman hanya memahatkan perih baru di jemari. Peluh menitik deras, bercampur darah nan merembes dari goresan-goresan kecil....