CERPEN PUISI MERDEKA TAPI TERAMPAS
PALESTINA ADALAH KITA
PALESTINA ADALAH DUNIA
https://youtu.be/bQpRVTOfIls?si=RKW1kHIWGyKomUaR
Azkinazi bukan Yahudi
Zionis bukan wajah para nabi
Azkinazi
Bukan Yahudi
Zionis
bukan wajah para nabi
pesta palsu para penipu
di negeri para nabi yang pilu
menjerit menolak kejahatan
namun di bungkam keserakahan
palestina adalah kita
nan di peras diadu domba
didustai kalimat duka
nan membakar semangat maut
milik mereka siapa yang bagi
milik yahudi siapa akui
nan nyata iblis pembawa api
menyalakan dusta abadi
palestina merdeka'
palsu
pengakuan nan jua tipu
agamapun telah di noda
Tuhan suci telah dijual
hanya darah
hanya darah
hanya maki
hanya maki
dipijak kaki Azkinazi
mereka telah biasa menipu dunia
melalui berbagai pembenaran dusta
palestina tidak merdeka
hanyalah dihibur dengan sementara
milik mereka
siapa yang bagi
tanah mereka
siapa yang pergi....
“Tanah yang Dijanjikan: Opera Para Penipu”
Cerpen: WIKO ANTONI
Di negeri para nabi yang pilu, ada tanah yang bernapas pelan. Namanya Palestina, namun ia sering lupa siapa dirinya, karena terlalu sering dipakai oleh para pengaku klaim. Ia seperti pohon tua yang dipetik buahnya, lalu akar-akarnya dijual dengan janji manis.
Di atas tanah itu, berkumpullah para tokoh:
Azkinazi, si penjelajah bermahkota pasir, mengaku bukan Yahudi tapi membawa gulungan janji Tuhan. Ia punya dua hati: satu penuh ambisi, satu penuh rasa ingin menang.
Zionis Konyol, yang memakai kaca mata emas dan selalu berkata, “Kami rakyat pilihan Tuhan!” padahal ia bingung apakah Tuhan pernah bicara kepadanya.
Nabi yang Lupa, orang tua dengan jubah lusuh, sering lupa isi kitabnya, tapi tetap memberi khutbah panjang tentang “hak ilahi”.
Umat yang Lapar, massa tanpa wajah, berjalan memanggil “tanah kami!” sambil membawa gundukan debu.
Tanah itu sendiri, berbisik pelan pada siapa pun yang mau mendengar.
Dalam kebingungan Azkinazi berdiri di puncak bukit berdebu. Ia membuka gulungan janji Tuhan yang berkilauan seperti emas. Ia membaca keras:
"Tanah ini milik Abraham dan keturunannya…".
Zionis Konyol mengangguk-angguk berlebihan, lalu berbisik ke Nabi yang Lupa:
“Wahai Nabi, itu artinya kita punya hak membunuh dan mengusir, kan? Kan Tuhan sudah bilang begitu!”
Nabi yang Lupa menggaruk kepalanya, “Eh… saya lupa bagian mana yang bilang begitu… tapi kita harus yakin, sebab itu penting untuk kemenangan.”
Umat yang Lapar berteriak:
“Janji? Janji itu sudah jadi sarang dusta! Kami lapar, tapi kalian makan janji!”
Tanah Palestina bergetar:
"Aku bukan milik siapa pun, tetapi semua orang ingin mengaku aku miliknya. Kalian jadikan aku alasan perang, alasan doa, alasan ambisi."
Azkinazi membuka lembar lain dari gulungan:
Zionis membuka catatan dan menjelaskan: di Era Kitab Suci Janji Tuhan kepada Abraham, tanah yang penuh cahaya. Tapi tanah itu sudah dihuni bangsa lain.
Zionis Konyol menimpali, “Ah, itu dulu. Sekarang Tuhan memilih kita! Bukankah kita yang membangunnya kembali?”
Nabi yang Lupa tertawa, “Aku lupa dari mana janji itu datang… tapi kita pakai saja, siapa peduli?”
Umat yang Lapar menangis di sudut, “Ini bukan tanah janji. Ini tanah luka!”
Azkinazi tersenyum tipis, “Itulah esensinya… janji menjadi senjata, bukan cahaya.”
Pada suatu malam tanpa bulan, Zionis Konyol dan Azkinazi mengadakan pertemuan rahasia di atas bukit. Mereka membawa gulungan janji, secangkir kopi hitam, dan sebotol ambisi.
Zionis Konyol berkata sambil garuk hidung penuh kotoran debu Padang pasir.
“Kita buat deklarasi. Katakan kepada dunia bahwa ini tanah janji. Semua akan percaya, dan kita dapat tanahnya.”
Azkinazi tertawa kecil, “Betul. Kita gunakan kitab sebagai surat izin. Tuhan tidak perlu tahu, yang penting kita punya alasan.”
Maka lahirlah Deklarasi Absurd itu, yang membuat dunia tertawa getir: sebuah janji yang dipoles jadi lisensi pengusiran.
Tanah Palestina berbisik lagi di tengah malam:
"Apakah Tuhan merangkap jadi agen tanah? Apakah Dia pilih kasih? Apakah ada yang berhak merasa unggul? Ataukah kitab-kitab itu hanya tafsir yang keliru?"
Umat yang Lapar menjawab dengan suara serak:
“Kami tak tahu… kami hanya tahu kami kehilangan rumah.”
Nabi yang Lupa berbisik:
“Mungkin Tuhan memang lupa memberitahu… atau kita yang lupa mendengar.”
Zionis Konyol menambah:
“Tapi janji itu bagus untuk ambisi.”
Azkinazi tersenyum licik, “Itulah seni perang: membuat janji jadi alasan. Dan membuat alasan jadi janji.”
Di bawah langit yang retak, Palestina berdiri tanpa mahkota, tanpa janji, tanpa nabi. Hanya darah, debu, dan tawa konyol dari mereka yang mengaku benar.
Dalam bisikan terakhir, Tanah itu berkata:
"Palestina adalah kita. Bukan milik satu agama, bukan milik satu bangsa. Aku adalah luka, aku adalah doa, aku adalah ujian bagi mereka yang mau mendengar."
Dan di antara suara tangis dan tawa para penipu, terdengar gema:
> Palestina adalah kita
Palestina adalah dunia
Dan kita adalah penjaga luka itu.
Fakta historis:
1. Era Kitab Suci (±2000–1000 SM)
Kejadian 15:18: Tuhan berjanji tanah kepada Abraham & keturunannya.
Tafsir awal = janji spiritual + syarat ketaatan.
Faktanya: Tanah itu sudah dihuni bangsa lain (Kanaan, Filistin, dll).
➡️ Benih narasi “ini tanah kami” muncul.
2. Era Israel Kuno (1000–500 SM)
Narasi Penaklukan Yosua (kitab Yosua) menggambarkan tanah itu direbut dengan “mandat Tuhan”.
Secara historis, arkeologi tidak menemukan bukti penaklukan besar-besaran → lebih mirip mitos legitimasi politik kerajaan Israel.
➡️ Muncul konsep eksklusif: “kami umat pilihan = tanah ini hak kami”.
3. Era Diaspora Yahudi (70 M – abad 19)
Tahun 70 M: Roma hancurkan Bait Allah, Yahudi tercerai-berai.
“Tanah Janji” jadi mitos kerinduan religius, bukan politik.
➡️ Umat Yahudi tetap hidup di Palestina bersama Arab Muslim & Kristen, tapi mayoritas Yahudi tersebar di Eropa.
4. Zionisme Modern (akhir abad 19)
Yahudi Eropa alami diskriminasi, pogrom, holocaust.
Theodor Herzl (1897): Kongres Zionis di Basel → proyek politik: “bangun tanah air Yahudi.”
Palestina dipilih karena alasan religius–historis, meski sempat ada opsi lain (Uganda Plan).
➡️ Narasi “Tanah Janji” direpolitisasi jadi program kolonial.
5. Kolonialisme & Deklarasi Balfour (1917)
Inggris janji dukung Yahudi bikin tanah air di Palestina (sementara Palestina mayoritas Muslim & Kristen Arab).
Imigrasi Yahudi besar-besaran → gesekan dengan penduduk lokal.
➡️ “Janji Tuhan” mulai jadi senjata kolonial.
6. Berdirinya Israel (1948)
Holocaust bikin simpati global → PBB bagi Palestina (1947).
Israel proklamasi 1948 → Nakba (malapetaka): 750.000 orang Palestina terusir.
➡️ Klaim “Tanah Janji” resmi jadi dasar negara modern.
7. Israel Ekspansionis (1967 – sekarang)
Perang Enam Hari (1967): Israel kuasai Yerusalem Timur, Tepi Barat, Gaza, Golan.
Kelompok Yahudi religius ekstrem makin keras: “Ini penggenapan janji Tuhan.”
➡️ “Tanah Janji” berubah jadi dalih apartheid, kolonialisme, dan blokade.
📌 Ringkasan Kritis
Asal: Janji spiritual → syarat moral.
Tafsir kuno: mitos politik untuk legitimasi kerajaan.
Diaspora: kerinduan religius, non-politis.
Zionisme modern: narasi janji dipakai untuk kolonialisme.
Negara Israel modern: klaim janji Tuhan dipakai untuk legalisasi pengusiran Palestina.
👉 Kesimpulan: dari janji yang seharusnya “tugas moral & spiritual” berubah jadi lisensi politik untuk mendominasi tanah & manusia lain. Itulah mutasi doktrin → kesesatan tafsir.
Pertanyaan nya,
1.Apakah Tuhan Merangkap jadi agen Tanah?
2. Apakah Tuhan pilih kasih pada hambanya?
3. Apakah Berhak merasa yang unggul dihadapan Tuhan? Lalu menjadikan nya alasan membunuh dan berbuat semena-mena pada hamba Tuhan yang lain?
4. Atau Tuhan salah memberikan informasi di kitab kitabnya.
Komentar
Posting Komentar