Pendakian Sia-Sia
Cerpen – Wiko Antoni
Di kaki lembah nan redup, aku berdiri menatap dinding terjal, tebing mimpi nan tak sudah. Kabut pagi bergayut rendah, seperti tangisan yang tak kunjung tumpah dari pelupuk langit. Tanah gambut menghembuskan bau basah, sungai di bawah sana berliku bagai urat-urat kesedihan yang mengalir jauh, membawa serta harapanku ke muara nan tak pasti.
Sejak mula, hidupku bagaikan rantau panjang yang tak ada sauhnya. Aku mendaki, menapak kerikil-kerikil yang menikam telapak, berharap sampai pada puncak nan dijanjikan cahaya. Kudengar bisik orang kampung: “Naiklah, di sana ada harapan, di sana ada megah.” Maka aku pun menjeratkan luka sebagai bekal, dan berangkat dengan dada menyala, meski nafas sendiri sering patah oleh bayangan kecewa.
Tatkala langkah pertama kuangkat, kudapati dunia bagai musuh berselubung. Tebing itu licin, cadasnya tajam. Setiap genggaman hanya memahatkan perih baru di jemari. Peluh menitik deras, bercampur darah nan merembes dari goresan-goresan kecil. Namun, di lubuk dada aku masih percaya: di atas sana ada puncak, ada makna, ada alasan mengapa aku dihidupkan. Maka kupejamkan mata, kugiring rasa sakit jadi semangat, kutukar lelah jadi doa.
Hari berulang. Malam merangkak, dingin menikam tulang. Di lereng sunyi, hanya bulan yang setia menyinari jalanku. Aku bicara pada bayang sendiri, berharap ia menjawab. Tapi suara hanya kembali sebagai gaung kosong, menertawaiku, menudingku sebagai pendaki sia-sia. Kadang aku rebah, memeluk tanah dingin, mendengar jantungku berdetak lirih bagai gendang kematian. Tapi tiap fajar, ada saja kekuatan yang menyeretku bangun, entah dari mana datangnya. Barangkali dari rindu, barangkali dari dendam, barangkali dari cinta nan tak pernah kutahu wajahnya.
Di sela langkah, wajah-wajah perempuan itu muncul. Yuni, dengan tatap penuh iba, seakan ingin jadi pahlawan bagi luka yang tak sembuh. Lasmiyati, yang kutinggalkan dengan air mata, tapi tetap mendoakan dari kejauhan. Sarnawati, yang bersetia dua belas musim, meski rahimnya tak memberi kami keturunan. Mereka semua adalah bayangan di kabut; tangan-tangan yang ingin menopangku, tapi justru tergores luka oleh bebatuan takdirku. Aku ingin berteriak: jangan ikuti aku, pendakianku ini hanya menuju kehampaan! Tapi suara tercekik di tenggorokan, tak pernah sampai.
Kian tinggi kudaki, kian tipis udara. Nafas jadi sesak, dada bagai dipukul ribuan palu. Kudengar bunyi burung malam terperangkap di jerat sunyi. Aku tahu, tubuhku makin lemah, tapi hatiku tetap keras kepala. Aku ingin puncak itu. Aku ingin tahu, apa sebenarnya rahasia di balik semua penderitaan ini. Maka kuteruskan juga, meski langkah goyah, meski pandangan kabur.
Akhirnya, setelah entah berapa musim, kakiku mencapai batu tertinggi. Kupeluk puncak itu dengan sekujur tubuh berlumur luka. Kupikir akan ada cahaya menyambut, atau nyanyian kemenangan. Tapi yang kudapati hanya keheningan. Puncak itu kosong. Angin berdesir lirih, bagai bisikan yang menertawakan segala usahaku. Aku memandang jauh ke lembah bawah sana—dan betapa terkejutnya aku, ternyata yang kulihat hanyalah bayangan diri sendiri yang sejak semula berdiri di dasar. Puncak dan lembah ternyata sama. Yang kucari hanyalah kekosongan yang kujinjing sejak awal.
Hatiku remuk. Kududuk di batu puncak, menatap langit muram. Ternyata segala dakianku hanyalah ilusi. Harapan yang kuburu hanya fatamorgana. Makna yang kuimpikan hanyalah mimpi rapuh. Aku sadar, aku mesti turun semula, kembali ke lembah, menanggung malu, menanggung kecewa. Tapi mungkin inilah hakikat: hidup bukan untuk sampai, tapi untuk kembali. Tidak ada kemenangan, hanya kepulangan pada kosong.
Di lereng perjalanan turun, aku berjumpa lagi dengan bayangan “ibu” dari mimpiku di usia tujuh tahun. Ia tersenyum, membuka tangan, memelukku seperti dulu. Katanya lirih, “Nak, engkau tak usah lagi mendaki gunung yang sia-sia. Semua cahaya yang kau cari, ada dalam dada. Semua cinta yang kau kejar, sudah ada di sekelilingmu. Kau hanya perlu menerima, bukan memburu.” Lalu wajahnya menghilang bersama kabut, meninggalkan hangat yang tak sempat kutangkap.
Kini aku mengerti. Hidup adalah rantau panjang, tapi tujuan bukanlah puncak. Tujuan adalah kesadaran. Aku hanyalah manusia penuh luka, dipaksa menerima takdir, dipaksa berjalan meski tanpa makna. Dan barangkali itulah makna: menerima ketidakbermaknaan. Pulang pada diri nan kosong, pulang pada Tuhan nan Maha Ada.
Malam itu, di kaki gunung, aku kembali menatap bintang. Tak ada lagi nyala ambisi, hanya tenang pasrah. Aku sadar, seluruh pendakian hanyalah doa yang panjang. Doa seorang hamba yang selalu jatuh, tapi tak putus berharap. Doa seorang manusia yang mengerti: takdir adalah dinding, tapi cinta Tuhan adalah pintu.
Aku pun pulang.
Rantau panjang, 25–9–225.
Komentar
Posting Komentar